PMI Banyumas Kehabisan Stok Plasma Konvalesen

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Peningkatan kembali kasus Covid-19 pascalebaran kali ini, dibarengi dengan meningkatnya pula semangat masyarakat yang pernah terkena Covid-19 untuk melakukan donor plasma. Kesadaran membantu kesembuhan penderita Covid-19 sudah mulai terbangun dan hal ini sangat berguna untuk menekan angka kematian Covid-19.

Direktur Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banyumas, dr Ivone Rusyandani mengatakan, meskipun ada peningkatan pada mantan pasien Covid-19 yang melakukan donor plasma, namun kebutuhan juga terus mengalami peningkatan. Hingga saat ini stok plasma konvalesen di PMI Banyumas habis.

“Yang donor plasma meningkat, tetapi kebutuhan plasma darah juga meningkat,” katanya.

Dari data PMI Banyumas, saat ini stok darah plasma, Rabu (23/6/2021) kosong untuk keseluruhan. Sementara daftar antrean kebutuhan plasma cukup banyak. Antara lain untuk golongan darah A daftar antrian kebutuhan plasma mencapai 35, golongan darah B mencapai 14, golongan darah O kebutuhan 33 dan golongan darah AB antrian kebutuhan sembilan kantong.

“Jadi donor plasma sangat dibutuhkan saat ini, terutama untuk membantu kesembuhan pasien Covid-19 dan menekan angka kematian,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu mantan penderita Covid-19, Eviyanti, warga Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas mengatakan, ia dinyatakan positif Covid-19 pada Maret lalu, sekarang ini sudah sembuh dan siap untuk melakukan donor plasma.

“Pasien Covid-19 sekarang bertambah banyak di Banyumas, bahkan pemkab sampai membuka rumah sakit darurat,” tuturnya, Rabu (23/6/2021).

Eviyanti mengaku sangat tidak enak saat divonis positif Covid-19. Perubahan kesehatan serta psikologis sangat terasa, namun susah untuk dijelaskan. Awalnya ia mengalami panas dan demam selama empat hari disertai dengan batuk dan pilek. Beberapa hari kemudian ia mengalami anosmia atau kehilangan penciuman dan lidah tidak bisa merasakan rasa apapun.

“Saat itu yang dominan perasaan bingung, stres dan kondisi kesehatan mulai drop. Ditambah lagi makan juga tidak enak karena hambar tidak berasa apapun,” katanya.

Selama dua minggu Evi melakukan isolasi mandiri di rumahnya dengan pemantauan petugas dari puskesmas setempat. Ia mengkonsumsi berbagai macam jenis vitamin, obat antibiotik serta obat kumur. Ia baru dinyatakan sembuh setelah dua bulan menjalani isolasi mandiri, karena pada saat swab kedua masih dinyatakan positif.

Mengetahui rasanya tidak enak terkena Covid-19, Eviyanti mengaku terpanggil untuk melakukan donor plasma setelah sembuh.

Sebelumnya, Bupati Banyumas, Achmad Husein menyampaikan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebagai pendonor plasma. Selain sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19, diharapkan donor plasma dilakukan tidak lebih dari jangka waktu 6 bulan setelah yang bersangkutan sembuh.

Terkait syarat fisik, batas usia pendonor plasma antara 18 hingga 60 tahun, dengan berat badan minimal 55 kilogram. Khusus untuk pendonor plasma perempuan, disyaratkan belum pernah hamil.

“Sekarang saatnya para mantan penderita Covid-19 menjadi pahlawan untuk menolong sesama penderita, agar angka kematian bisa ditekan seminim mungkin. Kita semua harus bersatu dan bahu-membahu mengatasi Covid-19 ini,” katanya.

Semangat untuk berbagi dengan donor plasma, tampaknya sudah mulai menggelora di kalangan masyarakat. PMI Banyumas juga terus menggelorakan semangat donor plasma dengan tagline ‘Plasma Untuk Kehidupan’.

Lihat juga...