Nelayan di Teluk Lampung Panen Demersal dan Pelagis 

Editor: Maha Deva

LAMPUNG – Nelayan di perairan Teluk Lampung, kembali mendapatkan hasil ikan tangkapan yang melimpah. Hal tersebut  sudah dirasakan sejak awal Juni lalu.
Samiran, salah satu nelayan tangkap pemilik Kapal Motor Jaya Putra menyebut, ikan yang banyak diperoleh adalah ikan perairan dasar (demersal) dan ikan perairan permukaan (pelagis). Jenis ikan yang tersebut seperti, ikan petek, ikan kuniran, ikan japu, ikan baji-baji dan berbagai jenis ikan lain yang ukurannya cenderung kecil-kecil.
Jenis ikan yang dominan berukuran kecil tersebut, hanya bisa diolah sebagai bahan pembuatan tepung ikan dan ikan giling. Namun demikian, meski bukan ikan konsumsi langsung, nilai ekonomi ikan-ikan tersebut cukup tinggi.
Usai mendarat di Pelabuhan Perikanan Lempasing, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, ikan hasil tangkapan langsung disortir. Sekali melaut, Samiran menyebut dengan kapal tangkap 15 Gross Ton (GT), bisa membawa pulang ikan sampai 1 ton. Dijual seharga Rp9.500 perkilogram dalam bentuk ikan campuran, ia masih bisa mendapat hasil Rp9,5 juta.
Hasil tangkapan, selanjutnya ditampung ke lokasi penyortiran dan pembersihan, sebelum digiling.“Saat berada di kapal kami telah melalukan sortasi jenis ikan konsumsi yang bisa mencapai lima kuintal jenis tongkol, simba, selar untuk dijual ke pedagang ikan keliling, sebagian ukuran kecil langsung dibawa ke tempat penyortiran, untuk dipisahkan bagian badan dan kepala,” terang Samiran saat ditemui Cendana News, Senin (14/6/2021).

Ikan giling yang telah diolah, dijual oleh Sukartinah di pasar Gudang Lelang, Teluk Betung, Bandar Lampung sebagai bahan pembuatan siomay, bakso ikan, Senin (14/6/2021) – foto HenK Widi
Samiran menyebut, permintaan akan tepung ikan protein tinggi (fish meal) cukup tinggi. Peluang usaha penggilingan ikan ditekuni sejumlah warga, untuk memanfaatkan hasil tangkapan ikan ukuran kecil, dari pada terbuang, masih bisa dimanfaatkan. Selain untuk pendukung produksi pakan, ikan giling yang telah dihaluskan tanpa duri, juga dijadikan bahan baku sejumlah olahan kuliner.
Marfuah, salah satu wanita pekerja di pelabuhan perikanan Lempasing menyebut, hasil tangkapan ikan menjadi peluang usaha. Dia membantu menyortir ikan, dan memisahkan bagian kepala dan badan ikan. Bagian badan yang memiliki daging, selanjutnya disisihkan untuk bahan ikan giling. Setiap hari, sekira dua ton ikan ukuran kecil harus disortir Marfuah bersama puluhan wanita pekerja lainnya di pelabuhan tersebut. “Semua bagian ikan ukuran kecil masih bisa dimanfaatkan agar memiliki nilai ekonomi sebagai bahan baku produk perikanan lain,” jelasnya.
Setiap kilogram ikan yang disortir, dengan dipotong bagian kepala dan badan, Marfuah diupah Rp1.500. Bekerja sejak pagi hingga sore, dengan hasil sekira 100 kilogram ikan, ia mampu membawa pulang uang Rp150.000. Menyortir ikan, menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah wanita di pesisir Lempasing.  Dari aktivitas tersebut, para wanita pekerja masih bisa membawa pulang hasil tangkapan berupa, rajungan, kepiting dan ikan konsumsi yang disisihkan saat penyortiran.
Pekerja lain, Nurdiah menyebut, penggilingan ikan sudah dilakukan sejak belasan tahun silam. Dalam sehari didapatkan ikan giling antara 600  hingga 700 kilogram. Ikan giling dijual Rp30.000 hingga Rp50.000 perkilogram. Biasanya, dipakai untuk bahan kuliner seperti campuran kerupuk, siomay, dan bakso.
Sementara untuk bagian kepala ikan, dikeringkan dan dibuat baku tepung ikan, sebagai bahan pembuatan konsentrat pakan tinggi protein. Konsentrat pakan dipergunakan untuk pakan ayam, itik, bebek, puyuh dan udang. Perkilogram tepung ikan kering, dijual Rp10.000 hingga Rp12.000. “Hasil penyortiran bagian ikan masih memiliki nilai ekonomis tinggi dan warga sekitar pelabuhan perikanan mendapat pekerjaan,” pungkasnya.
Lihat juga...