Budaya tak Cukup Hanya Dilestarikan

JAKARTA – Budayawan Betawi, Martin Maulia, mengatakan semestinya budaya tidak  hanya dilestarikan, melainkan dikembangkan. Sehingga, budaya tidak akan mati ditelan zaman, dan tetap hidup dan dikenal oleh generasi selanjutnya.

Pimpinan Sanggar Betawi Rifky Albani, itu mengaku karena kecintaannya pada budaya Betawi, membuatnya rela melepaskan jenjang kariernya di Kementerian Perdagangan.

“Ya, semuanya dilepas karena cinta pada budaya saya sendiri. Saya melepasnya karena ingin menyelami sendiri, mengapa ondel-ondel hanya begini-begini saja. Saya ingin terlibat langsung dalam pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Salah satunya melalui ondel-ondel ini,” kata Martin saat ditemui di sanggar miliknya di Meruya Utara, Kembangan Jakarta Barat, Sabtu (19/5/2021).

Pimpinan Sanggar Betawi Rifky Albani, Martin Maulia menjelaskan tentang ondel-ondel saat ditemui di sanggar miliknya di Meruya Utara, Kembangan Jakarta Barat, Sabtu (19/5/2021). –Foto: Ranny Supusepa

Ia menceritakan, bahwa sebutan ondel-ondel itu bukanlah sebutan awal. Tapi, merupakan istilah yang muncul di zaman kepemimpinan H. Ali Sadikin.

“Sebutannya itu Barongan atau Baloman. Berawal dari adanya serangan penyakit di suatu desa. Dan, akhirnya sesepuh kampung memerintahkan untuk membuat boneka raksasa berpasangan dan diarak keliling kampung. Saat itu warga memberikan uang sebagai sawer, bentuk syukur warga tolak bala. Jadi, bukan seperti sekarang,” tuturnya.

Penamaan ondel-ondel, lanjutnya, pertama kali diberikan oleh H. Benyamin Sueb yang merujuk pada tangan ondel-ondel yang gondal gandel (red: bahasa Betawi yang berarti goyang tanpa arah).

“Tapi kalau main ke daerah Jakarta Pusat, masih ada yang menyebut barongan,” tuturnya.

Karena awalnya ondel-ondel merupakan alat untuk tolak bala, Martin menceritakan pelepasan ondel-ondel selalu disertai dengan bubur merah, bubur putih, kopi, susu dan air putih. Tampilannya pun dibuat seram.

“Kalau sekarang, fungsinya kan hiburan rakyat. Jadi, ondel-ondelnya kita bikin cantik. Yang laki-laki dibuat gagah. Tapi tetap karena mayoritas orang Betawi itu muslim, maka kita membuat ondel-ondel itu tidak menyerupai manusia,” katanya, lebih lanjut.

Karena ada perda tentang pelestarian budaya yang mewajibkan ikon Betawi di destinasi wisata dan pendidikan, penggunaan ondel-ondel menjadi marak. Walaupun bukan dalam bentuk boneka raksasa.

“Sudah ada beberapa lokasi yang menerapkan. Kendala pada lokasi yang sempit, kita siapkan miniatur ondel-ondel berbahan fiber. Ya, sepasang juga,” ujarnya.

Di masa pandemi, Martin menyebutkan juga memberi model baru pada ondel-ondel.

“Untuk menyesuaikan, ondel-ondelnya kita pakaikan masker. Karena disesuaikan dengan konsep yang diusung pemda, yaitu Jakarta Bermasker,” ujarnya lagi.

Martin menjelaskan, konsep pembuatan ondel-ondel mengikuti dari konsep masyarakat Jakarta.

“Seperti muka yang putih, itu menunjukkan baik. Kalau yang laki-laki, diberi warna merah mukanya, merujuk pada sifat jagoan. Pakaian ondel-ondel yang genjreng, itu sesuai dengan budaya pakaian warga Jakarta yang genjreng dan bertabrakan. Untuk kembang kelapanya, itu jumlahnya 20. Merujuk pada Alquran surat 20, yang menyampaikan, bahwa Alquran adalah peringatan bagi manusia,” paparnya.

Di awal, Martin menyebutkan sanggar miliknya hanya memproduksi sovenir ondel-ondel. Yang didorong rasa prihatin mereka, para pedagang di Monas tidak ada yang menjual sovenir ondel-ondel. Hanya menjual sovenir monas atau becak.

“Baru setelah itu, sanggar Rifky Albani mulai memproduksi topeng,” ujarnya.

Ia menyebutkan, ia terpaksa melepas ondel-ondel turun ke jalan karena saat pandemi berlangsung, sama sekali tidak ada order yang masuk.

“Apapun kita lakukan untuk menjaga sanggar bisa tetap beroperasi. Karena bantuan yang kita dapatkan itu hanya bantuan sembako yang didapat karena kita warga. Bukan bantuan yang khusus sebagai pelaku seni budaya,” ucapnya.

Ia mengungkapkan sangat mendukung pelestarian budaya Betawi. Tapi, bukan berarti hanya meletakkan benda budaya di museum.

“Tapi kita harus mengembangkannya. Jadi seperti pelaku ondel-ondel sekarang. Saya tidak setuju kalau pengiring musiknya itu dari flashdisk atau rekaman. Karena itu tidak mengangkat budaya. Itu hanya menjual ondel-ondel saja. Gunakan alat musik asli Betawi untuk mengiringi. Itu baru namanya melestarikan dan menghargai budaya,” ucapnya tegas.

Martin menyebutkan, dengan menerapkan budaya secara benar maka harga diri budaya akan terjaga.

“Negara yang maju itu adalah negara yang melestarikan budaya. Kami juga belum yang paling baik dalam melestarikan budaya Betawi. Ayo, kita sama-sama melestarikan dan mengembangkannya,” pungkasnya.

Lihat juga...