Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi Berbahaya Bagi Anak
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang umumnya terjadi pada bayi atau anak, tidak hanya berpotensi mempengaruhi pertumbuhan fisIk. Namun juga kognitif, sehingga perlu diwaspadai sejak dini.
Konsultan Hematologi Onkologi RSAB Harapan Kita, dr. Fajar Subroto, Sp.A(K), menyatakan ADB lebih rentan terjadi pada anak dibandingkan orang dewasa.
“Kondisi ADB pada bayi atau anak ini sangat berbahaya. Karena mempengaruhi seluruh organ tubuh anak dan berpotensi menimbulkan gangguan pada fungsi kognitif,” kata Fajar, dalam edukasi online anemia, Jumat (12/3/2021).
Ia menjelaskan, pengaruhnya terjadi secara bertahap. Diawali dengan menurunnya jumlah zat besi, yang jika terjadi dalam waktu lama akan mempengaruhi fungsi otak dan otot. Pada akhirnya, akan mempengaruhi tumbuh kembang anak dan sistem kekebalan tubuh, yang menjadikan anak rentan infeksi.
“ADB ini bisa diindikasikan, jika anak mengalami lemas, tidak nafsu makan, cepat lelah, tidak aktif dan jika pada bayi, biasanya akan kesulitan minum dan rewel,” urainya.
Tanda lainnya yang ditunjukkan anak ADB adalah pucat pada kelopak mata, sulit berkonsentrasi, perkembangan terhambat dan sering sakit.
“Pada bayi, kondisi ini biasanya disebabkan kurangnya asupan zat besi oleh ibu pada masa kehamilan,” ujarnya.
Dokter Fajar menyebutkan, penyebab ADB pada anak adalah kurangnya mengkonsumsi makanan kaya zat besi, seperti yang sering terjadi pada anak pemilih makanan.
“Bisa juga karena obesitas, alergi pada protein sapi, malabsorbsi atau kejadian infeksi berulang atau kronis. Penyebab ini akan bisa ditelusuri, jika orang tua yang melihat gejala atau tanda pada anak, langsung membawanya ke layanan kesehatan,” ucapnya.
Karena ADB ini sangat besar dampaknya, pencegahan perlu dilakukan sebelum gejala terjadi.
“Orang tua perlu untuk memastikan, bahwa makanan yang dikonsumsi anak memiliki kecukupan zat besi. Ini bisa didapatkan dari daging merah, kuning telur, hati ayam atau hati sapi dan sayuran yang berwarna hijau tua,” ucapnya lagi.
Menurutnya, jika memang sudah terjadi, sebaiknya anak atau bayi langsung dibawa ke pusat layanan kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan.
“Agar bisa diberikan suplementasi zat besi yang sesuai dengan berat tubuh anak. Misalnya, kalau untuk anak prematur, itu sudah bisa diberikan sejak umur 2-3 bulan dengan dosis 2 mg per berat badan anak per hari hingga umur 2 tahun,” paparnya.
Selain memantau asupan makanan, dr. Fajar juga menekankan pentingnya edukasi pada masyarakat terkait ADB ini.
“Untuk mencegah, tentunya edukasi tentang pentingnya zat besi dan keragaman makanan perlu dilakukan pada masyarakat. Dan, menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi kemungkinan infeksi bakteri atau parasit yang berpotensi menyebabkan defisiensi besi,” pungkasnya.