Pameran Bonsai, Wahana Rekreasi dan Edukasi di Masa Pandemi
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Hobi mengerdilkan tanaman menjadi bonsai menjadi tren menarik kala pandemi Covid-19.
Wayan Suwarno, Ketua Komunitas Nadi Bonsai, menyebut, hobi yang menjadi bagian dari seni membentuk tanaman lebih indah tersebut semakin digemari. Memfasilitasi para pehobi, komunitas menggelar Ngopi Bareng dan Jemur Bonsai di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan.

Para pehobi bonsai dari Bandar Lampung, Lampung Selatan dan Lampung Timur sebutnya dilibatkan. Sejumlah bonsai yang telah jadi, sebutnya, berasal dari tanaman sentigi, asam jawa, kelapa, serut, putri malu, kimeng dan berbagai jenis tanaman lain. Dipadukan dengan pot unik, semua bonsai ditampilkan dengan estetika menarik untuk dipandang.
Hobi bonsai yang banyak digemari sebagai seni, sebut Wayan Suwarno, mendorong kreativitas. Berbagai pehobi, trainer atau pembentuk bonsai, dilibatkan untuk kegiatan Ngopi Bareng dan Jemur Bonsai di lapangan Sumber Nadi.
Menerapkan protokol kesehatan sebanyak 350 bonsai dipajang agar bisa dinikmati oleh masyarakat. Berbagai jenis bonsai selain dipajang juga bisa langsung dibeli oleh peminat.
“Komunitas Nadi Bonsai memfasilitasi para pehobi bonsai untuk bisa memajang karyanya, dilihat sebagai bagian dari aktivitas rekreatif di tempat terbuka yang bisa dinikmati, sehingga juga menjadi kesempatan silaturahmi pemilik bonsai di Lampung Selatan,” terang Wayan Suwarno, saat ditemui Cendana News, Minggu (31/1/2021).
Komunitas Nadi Bonsai sebutnya, menjadi bagian dari Persatuan Pebonsai Indonesia cabang Lampung Selatan. Daya tarik dari beragam tanaman bonsai yang ditampilkan dengan beragam pot tersebut, menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Pengunjung sebutnya tetap diberi kesempatan melihat berbagai bonsai dengan penerapan protokol kesehatan. Mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak diterapkan di lokasi bonsai yang dipajang.
Beragam bonsai yang dipamerkan menurut Wayan Suwarno sebagian dijual. Bagi peminat bonsai sebagian diberi label harga mulai Rp1 juta hingga puluhan juta.
Berbagai bentuk dan karakter bonsai unik tersebut menjadi daya tarik bagi pengunjung yang belum memahami seni bonsai. Bagi peminat sejumlah bonsai yang dipajang menjadi sarana untuk belajar.
“Pehobi dari beragam komunitas bisa saling belajar untuk menghasilkan seni yang tinggi bahkan memiliki nilai jual,” terangnya.
Kadek Mila, pengunjung di pameran bertajuk Ngopi Bareng dan Jemur Bonsai menyebut, ia bisa berfoto dengan latar belakang tanaman unik. Berbagai jenis bonsai dari tanaman langka menjadi daya tarik untuk feed akun media sosial Instagram miliknya. Kegiatan melihat bonsai dengan berbagai jenis tersebut menjadi kegiatan rekreatif saat akhir pekan.
Sejumlah bonsai yang dipajang menurutnya memiliki harga yang fantastis. Mengajak serta sejumlah rekan untuk melihat beragam tanaman yang telah menjadi bonsai ia menyebut, seni tersebut cukup unik. Meski hanya berniat untuk melihat dan berfoto pada objek bonsai, ia bisa menikmati suasana akhir pekan.
Made Sumiarse, sesepuh Komunitas Nadi Bonsai menyebut, Ngopi Bareng dan Jemur Bonsai jadi kegiatan positif. Baginya seni bonsai memiliki filosofi di tengah keterbatasan tanaman tetap berkarakter.

Bagi kehidupan manusia saat masa pandemi Covid-19 yang penuh dengan kesulitan, manusia bisa bertahan. Bonsai yang merunduk tumbuhnya, sekaligus jadi pembelajaran bagi manusia untuk rendah hati.
“Seni bonsai tidak hanya soal estetika namun sekaligus menjadi cara untuk belajar tentang kehidupan,” cetusnya.
Nanang Ermanto, Bupati Lamsel menyebut, seni bonsai memiliki daya tarik. Sejumlah bonsai yang terbentuk menjadi hasil seni yang bisa memiliki nilai jual tinggi.
Ia menyebut, pemerintah daerah akan mendukung komunitas pehobi untuk memamerkan produk. Hobi bonsai sebutnya, bisa menjadi bagian dari pengembangan desa berbasis wisata bonsai.
Kegiatan pameran bonsai sebutnya bisa menjadi sinergi antar-berbagai pihak. Terlebih kawasan pesisir pantai yang memiliki tanaman mangrove, sentigi bisa terus dikembangkan.
Bagi masyarakat yang mengembangkan bonsai bisa sebagai sumber lapangan pekerjaan. Dukungan dari pemerintah desa untuk pengembangan potensi desa bisa meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.