FREN Gandeng Petani Milenial di Sikka, Motivasi Kaum Muda

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Yayasan Flores Children Development (FREN), Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menggandeng seorang petani milenial yang viral berkat penggunaan teknologi internet dan layanan pesan pendek (SMS) dalam penyiraman tanaman guna memotivasi kaum muda.

Puluhan kaum muda baik pelajar SMA, mahasiswa maupun yang sudah menamatkan pendidikan mengikuti kegiatan Bincang Inspiratif Kaum Muda dengan tema ‘Muda, Berdaya, Berkarya’ yang digelar dengan penerapan protokol kesehatan.

“Kami ingin membangkitkan semangat anak muda berwirausaha sehingga menjadi remaja yang cerdas, percaya diri dan memiliki inovasi,” kata Ketua FREN, Bona Kowan Kornelis saat ditemui di sela-sela kegiatan di Kota Maumere, Jumat (29/1/2021).

Bona sapaannya mengatakan, kegiatan ini sudah kesekian kalinya dilakukan sejak tahun 2012 sehingga diharapkan banyak remaja yang memiliki usaha dan menjadi wirausaha sukses.

Bona Kowan Kornelis saat ditemui di sela-sela kegiatan di Kota Maumere, Jumat (29/1/2021) -Foto: Ebed de Rosary

Diakuinya,memang dalam perjalanan tidak semudah membalikkan telapak tangan karena banyak anak muda yang masih suka hura-hura daripada meluangkan waktu melakukan karya-karya yang bermanfaat.

“Kita berharap puluhan orang bahkan lebih yang bisa sukses menjadi wirausaha. Di Kecamatan Waigete ada beberapa anak-anak muda yang mulai berwirausaha dan memiliki usaha sendiri meskipun masih kecil-kecilan saja,” ucapnya.

Bona menyebutkan, untuk wilayah Kabupaten Sikka pihaknya melakukan pendampingan anak-anak muda di Kecamatan Waigete dan Hewokloang selain juga di Kabupaten Ende dan Flores Timur.

Dia harapkan ada anak muda yang bisa memiliki kemampuan dan kreativitas untuk membangun wilayahnya sendiri daripada merantau sebab di tanah rantau belum tentu bisa meraih sukses.

“Dengan pelatihan dan motivasi, anak-anak muda kita dorong agar mereka bisa memiliki cita-cita dan semangat demi mengejar karya mereka yang lebih baik ke depannya,” ucapnya.

Bona mengakui, tentu bukan hanya pihaknya saja yang membimbing generasi muda tetapi semua pihak termasuk pemerintah dan kita sudah bekerja sama dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Sikka.

Sementara itu, Yance Maring, petani muda yang mengembangkan sistem pertanian irigasi tetes dengan menggunakan teknologi internet dan SMS dalam menyiram dan pemupukan tanaman mengaku senang bisa memotivasi generasi muda.

Yance selaku pembicara tunggal dalam dialog tersebut meminta agar kaum muda harus berani memiliki cita-cita menjadi petani dan wirausaha sukses seperti dirinya meskipun awalnya mengalami kegagalan.

“Jangan takut untuk memulai sebuah usaha sebab pasti akan mengalami kegagalan. Saya sendiri saja awalnya gagal bahkan modal usaha habis sehingga harus meminjam uang dari bank untuk memulai lagi usaha,” ucapnya.

Yance juga berharap agar anak-anak muda jangan hanya memiliki cita-cita bekerja sebagai pegawai negeri atau pekerja kantor lainnya tetapi harus memiliki cita-cita menjadi petani dan wirausaha.

Diakuinya, memang tantangan terbesar berasal dari keluarga sendiri karena rata-rata di Kabupaten Sikka maupun wilayah lainnya di NTT, seorang yang sudah meraih gelar sarjana dituntut untuk bekerja menjadi pegawai negeri dan pegawai kantor.

“Jarang sekali orang tua yang ingin anaknya menjadi wirausaha apalagi petani setelah meraih gelar sarjana. Apalagi menjadi petani identik dengan bekerja kotor sehingga rata-rata petani di Indonesia berumur di atas 40 tahun,” ucapnya.

Yance berpesan agar dalam berusaha harus sampai kepada memproduksi atau menjual sebuah produk dalam jumlah banyak agar keuntungan yang diperoleh besar meskipun harga jual per produknya murah.

“Saya harapkan agar anak-anak muda memiliki mimpi dan cita-cita menjadi seorang wirausaha yang sukses.Harus berani mencoba dan disiplin dalam berusaha sebab dengan begitu akan meraih sukses,” pungkasnya.

Lihat juga...