Upaya Atasi Persoalan OPT Pertanian Padi di Kota Semarang

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG —  Produksi beras atau gabah perlu didukung agar panen padi bisa terus melimpah. Utamanya, dari gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), seperti hama wereng batang coklat, hingga penggerek batang padi kuning. Jika tidak diatasi sedini mungkin, serangan hama tersebut bisa menyebabkan tanaman padi menjadi puso atau tidak ada isinya, sehingga gagal panen.

“Salah satu upaya yang kita lakukan, dengan pertanian dengan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yakni berupa sebuah sistem perlindungan tanaman yang erat kaitannya dengan usaha pengamanan produksi mulai dari pra-tanam, pertanaman, sampai pasca panen,” papar Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat ditemui di kantor tersebut, Senin (7/12/2020).

Kepala Dispertan Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat ditemui di kantor tersebut, Senin (7/12/2020). -Foto Arixc Ardana

Sementara, agar para petani padi paham mengenai PHT tersebut, pihaknya pun menggelar pendampingan melalui petugas penyuluh lapangan (PPL), dengan kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) padi.

“Melalui SLPHT ini, diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan petani tentang pengendalian hama terpadu, termasuk mengendalikan hama secara kelompok. Sekaligus meningkatkan keterampilan petani dalam pengendalian hama,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga mendorong penggunaan bibit padi bersertifikat, yang sudah terbukti tahan hama dan penyakit. “Termasuk juga kita dorong penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati, tujuannya agar hama ini tidak resisten terhadap pestisida,” tandasnya lagi.

Meski termasuk wilayah perkotaan, Kota Semarang masih memiliki lahan pertanian padi atau sawah di kawasan Mijen, Gunungpati, Semarang Barat, Pedurungan, hingga Tembalang. Tercatat dari persawahan dengan total luas mencapai 2.400 hektare tersebut, pada 2019 lalu mampu menghasilkan 32 ribu ton gabah kering atau 20 ribu ton beras.

“Meski luas lahan pertanian khususnya sawah di Kota Semarang, relatif kecil, namun masih tetap ada. Dari sekitar 2.400 hektare sawah, mampu menghasilkan 20 ribu ton beras per tahun. Sementara, kebutuhan konsumsi beras per tahun Kota Semarang yang mencapai 191 ribu ton, sehingga perlu disuplai dari wilayah sekitar seperti Kabupaten Demak dan Kendal,” paparnya.

Sementara, Kabid Tanaman Pangan Dispertan Kota Semarang Shoti’ah, menambahkan penggunaan benih bersertifikat, juga akan meningkatkan hasil panen.

“Selama ini, banyak petani yang menggunakan benih padi turunan, sehingga hasilnya lebih rendah dan rentan terhadap hama. Untuk itu, kita dorong agar mereka menggunakan benih bersertifikat. Termasuk benih bantuan yang kita berikan,” paparnya.

Tidak hanya itu, pengolahan tanah yang benar juga terus disosialisasikan. “Misalnya damen atau gagang tanaman padi, yang sudah kering jangan dibuang. Namun bisa dibakar dan dikembalikan lagi ke tanah sebagai kompos. Untuk membantu kesuburan tanah,” lanjutnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong penggunaan pupuk yang berimbang. Kadang kala ada anggapan bahwa semakin banyak pupuk yang diberikan, akan semakin banyak hasilnya.

“Kita harus bisa merubah pola pikir petani, bahwa itu tidak betul. Sebab dengan semakin banyak pupuk, tidak imbah, justru akan merusak unsur hara tanah,” tambah Shoti’ah.

Sedangkan terkait OPT, jika ditemukan adanya serangan hama, pihaknya membuka diri bagi para petani untuk menyampaikan, sehingga akan dibantu dalam penyelesaiannya. “Bisa disampaikan kepada PPL, nanti kita bantu dalam mengatasinya,” pungkasnya.

Lihat juga...