Konservasi Mangrove di Pesisir Lamsel Libatkan Masyarakat
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Masyarakat Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang; Lampung Selatan, sejak belasan tahun silam melakukan konservasi mangrove. Dan kini, pemberdayaan masyarakat kembali dilakukan melalui padat karya penanaman mangrove.
I Ketut Sinde Atmita, Kepala Desa Sumber Nadi menyebut pemberdayaan masyarakat jadi bagian kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) masa pandemi Covid-19.
Puluhan masyarakat setempat terlihat antusias dengan pekerjaan menyiapkan bambu hitam yang akan digunakan untuk media penyiapan bibit magrove jenis Rhizopora Sp atau bakau bakau. Sebanyak ribuan alat penahan ombak (APO) terbuat dari bambu dikerjakan dalam kelompok. Kelompok Tani Setia Dharma III dibagi dalam enam kelompok kerja untuk penyiapan program penanaman mangrove.
“Kegigihan masyarakat pesisir untuk menjaga hutan mangrove jenis api api membuat suksesi alami terjadi, selanjutnya dengan adanya dukungan dari pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan penanaman mangrove jenis bakau digencarkan,” terang I Ketut Sinde Atmita saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (23/10/2020).

Saat ini, imbuhnya, luasan lahan mangrove yang telah tumbuh lebih dari 50 hektare. Upaya konservasi melalui padat karya mangrove akan dilakukan pada lahan seluas 60 hektare. Pemberdayaan masyarakat yang dilibatkan dalam program itu sekaligus menjadi cara agar kesadaran menjaga pesisir meningkat.
Melalui Peraturan Desa Sumber Nadi, kearifan lokal menjaga tanaman mangrove dilakukan melalui sistem denda. Penebangan pohon mangrove dengan sengaja sebutnya akan didenda sebesar Rp500 ribu. Langkah itu menjadikan kawasan mangrove jenis api api tetap lestari hingga kini. Ganjarannya selain lingkungan pesisir lestari, pihaknya mendapat program PEN padat karya mangrove.
Berbasis padat karya, semua pekerja akan mendapatkan hasil yang langsung masuk ke rekening. Langkah itu memberi hasil secara ekonomi dan ekologis. “Saat masyarakat kesulitan mendapat sumber pemasukan ekonomi, ada padat karya yang berguna menjadi sumber penghasilan,” tegas I Ketut Sinde Atmita.
Anggota kelompok tani sebut I Ketut Sinde Atmita masih menyiapkan lokasi penempatan benih. Rencana penanaman mangrove sebutnya akan dilakukan pada November mendatang. Sebab pekerja tengah menyiapkan lokasi penanaman dan sebagian membuat APO agar rumpun mangrove tidak rusak oleh gelombang pasang. Antusiasme warga sebutnya sangat tinggi untuk mendukung program pemerintah itu.
I Wayan Suwarno, Sekretaris Desa Sumber Nadi menyebut ia mendapat tugas untuk penyiapan lokasi. Lokasi penanaman mangrove jenis bakau berada di jalur sepanjang muara sungai. Anggota kelompok sebutnya membuat akses untuk penanaman rumpun terbuat dari bambu berbentuk kotak. Metode penanaman itu berguna untuk menjaga mangrove muda dari gelombang dan hama.
“Hama kepiting bakau kerap akan memangsa tanaman muda sehingga dipersiapkan bambu sebagai pagar,” cetusnya.
Sesuai rencana sebanyak 300 ribu batang akan ditanam dalam sebanyak 600 rumpun. Sistem rumpun lebih efektif untuk proses pemantauan dan perawatan. Selain itu penanaman akan dibentuk sesuai estetika untuk menjadi kawasan objek wisata mangrove. Bentuk yang unik akan terlihat dari udara saat tanaman tumbuh sehingga menjadi spot foto berbasis konservasi lingkungan.
Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung menyebut pelibatan masyarakat sangat penting. Vegetasi mangrove jenis Rhizopora Sp sangat cocok karena pantai Sumber Nadi didominasi lumpur. Pola rumpun dilakukan agar penanaman mudah dalam perawatan berkelanjutan.
“Program ini bukan sekadar menanam tapi harus ada pengawasan, perawatan hingga penyulaman jika ada tanaman mati,” bebernya.
Ada sebanyak 500 hektare lahan akan dikonservasi pada kawasan pesisir Lampung. Wilayah tersebut meliputi Tulang Bawang, Lampung Timur, Lampung Selatan, Pesawaran hingga Tanggamus. Penanaman di wilayah pantai Sumber Nadi seluas 60 hektare dilakukan oleh Kelompok Tani Setia Dharma III. Sistem padat karya mangrove sebutnya bersumber dana dari DIPA 29 BPDASHL Way Seputih Way Sekampung.