Tetap Bertahan di Tengah Pandemi, ini Strategi UMKM Tahu di Semarang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Dengan cekatan, Sugiyani, membelah dua potongan tahu di tangannya. Kemudian menatanya di atas ayaman bambu. Tidak asal memotong, wanita 40 tahun tersebut, juga menghitung jumlah tahu yang ditata.

Aktivitas tersebut menjadi keseharianya, bersama beberapa pekerja lainnya di UMKM Tahu Tandang Semarang. Setiap hari kurang lebih 140 kilogram kedelai diolah menjadi tahu. Setelah selesai, ribuan potong tahu tersebut kemudian dijual ke pedagang, yang mengambil langsung ke UMKM tersebut.

“Setiap hari, rata-rata kita buat tahu 10 tong, per tong butuh sekitar 14 kilogram kedelai,” paparnya, saat ditemui rumah produksi tahu, Jalan Tandang, Kedungmundu, Semarang, Selasa (22/9/2020).

Sugiyani bersyukur, di tengah pandemi covid-19, hingga kenaikan harga bahan baku kedelai, usaha yang dirintis puluhan tahun lalu tersebut masih bisa bertahan hingga sekarang.

“Kalau dibanding sebelum pandemi, produksi sekarang lebih sedikit. Per hari, kita produksi antara 10 -12 tong tahu, sementara sebelum ada corona, kita bisa produksi 14-15 tong tahu per hari,” jelasnya.

Diakuinya penurunan produksi tersebut, karena permintaan konsumen juga turun. “Selain itu juga karena harga kedelai juga naik, sebelumnya Rp 7.500 per kilogram, sekarang jadi Rp.7.800 per kilogram. Kalau sehari butuh 140 kilogram, ya kira-kira butuh modal sekitar Rp 1,1 juta buat beli kedelainya. Buat usaha kecil seperti kita ini, ya cukup besar,” terangnya.

Selain tahu putih, usaha rumahan tersebut juga membuat tahu pong. Meski permintaan tidak setinggi tahu putih, pihaknya mencoba memenuhi kebutuhan konsumen.

“Namun sekarang, harga minyak goreng juga naik, dari Rp 10 ribu per kilogram, jadi Rp 12 ribu per kilogram. sementara harga jual juga tidak dinaikan, sebab kalau naik, takutnya konsumen beralih,” jelasnya.

Meski demikian, di situasi yang tidak menentu tersebut, pihaknya tetap bersyukur bisa terus produksi dan bertahan.

“Syukur alhamdulillah, meski tidak sebanyak seperti sebelum pandemi, namun permintaan masih ada. Para pekerja juga tidak ada yang dirumahkan, masih tetap bekerja seperti sehari-hari,” ungkap Sugiyani.

Dipaparkan, kunci keberhasilan untuk tetap bertahan tersebut terletak pada kualitas tahu yang diproduksi. Angka 14 kilogram kedelai per tong, menjadi syarat agar tahu produksi UMKM tersebut berkualitas.

“Kalau per tong kurang dari 14 kilogram, tahu yang dihasilkan mudah remuk, karena terlalu lembut, sementara kalau terlalu banyak, tahu jadi tidak kenyal. Ini memang sudah ada hitungannya, hasil dari pengalaman selama ini,” jelasnya.

Seperti diketahui, untuk membuat tahu, kedelai yang sudah direndam dan dicuci bersih, kemudian dihaluskan serta direbus. Selanjutnya, air rebusan kedelai ini disaring. Air hasil saringan ini, kemudian diolah menjadi tahu.

Selain kualitas, kunci lainnya untuk bisa bertahan, pihaknya rela mengurangi keuntungan agar harga jual tidak ikut naik, meski harga bahan baku mulai merangkak tinggi. “Namun kalau nanti naiknya sudah terlalu tinggi, ya mau tidak mau ikut naik. Untuk itu, kita harapannya harga bahan baku, jangan naik,” tegasnya.

Di satu sisi, dirinya mengaku selama pandemi terjadi, pihaknya juga belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik tingkat pusat atau daerah. Meski tidak berharap, namun pihaknya tidak menolak jika pemerintah memberikannya.

“Sebenarnya kalau mau diberi ya kita senang, tapi kalau tidak diberi juga tidak apa-apa. Tidak terlalu berharap,” urainya.

Harapan senada juga disampaikan Rahayu, pembuat tahu tempe di kawasan Krobokan Semarang Barat ini, mengaku meski terimbas pandemi, dengan menurunnya permintaan pasar, namun usaha tersebut tetap bertahan.

“Imbas pandemi pasti ada. Permintaan turun, meski tidak terlalu banyak. Harga kedelai naik, sementara harga tahu tidak naik. Kalau harapannya, pandemi cepat selesai biar permintaan juga naik, produksi kembali normal,” terangnya.

Rahayu mengaku dalam sehari bisa memproduksi 10-15 ember besar tahu. Tahu tersebut disetorkan ke sejumlah pedagang di Kota Semarang, seperti pasar Jatingaleh, Bugangan, Bong Lama hingga pasar Gang Baru.

“Kalau harga bervariasi, tergantung permintaan pedagang. Untuk ukuran besar, per 10 potong harganya Rp 5 ribu, untuk yang kecil Rp 4 ribu. sementara, tahu yang rusak, kita potong kecil-kecil, jualnya per kilogram Rp 6 ribu,” jelasnya.

Ditanya soal harapan, dirinya hanya meminta agar bahan baku tidak terus naik, sehingga usahanya tersebut bisa tetap bertahan, meski pandemi terus berlangsung. “Insya Allah, kalau produk makanan, seperti tahu ini tetap ada pembelinya, harapannya hanya bahan baku jangan naik, kalau terus naik, kasihan pelaku usaha kecil seperti saya ini,” pungkasnya.

Lihat juga...