Volume Sampah Alami Penurunan Selama Pandemi Covid-19
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Sejumlah pengepul rongsokan di wilayah Bandar Lampung menilai, selama pandemi Covid-19 terjadi penurunan volume penjualan. Pasokan dari pengumpul menurun cukup drastis hingga 50 persen.
Sudiro, pengepul menyebutkan, pada kondisi normal volume barang bekas yang dijual pada tempat usahanya mencapai 50 kuintal per hari. Selama Covid-19 volume barang bekas yang dijual mencapai 25 kuintal.
Jenis bahan daur ulang dari sampah yang kerap dikumpulkan dominan botol plastik, kardus, alumunium, tembaga dan besi. Semua jenis barang yang bisa didaur ulang tersebut berasal dari pasar tradisional, pertokoan dan perumahan.
“Penurunan sampah daur ulang jadi indikator aktivitas warga yang mulai berkurang di tempat umum, kesadaran warga memilah sampah tinggi sehingga sejumlah tempat sampah dominan berisi bahan yang tidak bisa didaur ulang,” terang Sudiro saat ditemui Cendana News, Rabu (12/8/2020)
Pencari sampah daur ulang dengan gerobak menurutnya kerap datang membawa puluhan kilogram sampah. Jenis sampah plastik, kertas dan logam dibeli dengan harga mulai Rp500 hingga Rp75.000 per kilogram. Paling murah jenis kertas seharga Rp500, besi Rp5.000, alumunium Rp10.000 dan tembaga bisa mencapai Rp75.000 per kilogram.
Hendrik, pengepul sampah daur ulang di Jalan Ikan Kakap, Teluk Betung menyebut sejumlah tempat sampah lebih bersih dibanding tiga bulan sebelumnya. Kegiatan masyarakat yang dibatasi seperti car free day, perlombaan jalan santai jelang Agustusan yang ditiadakan berimbas perolehan sampah daur ulang semakin terbatas.
“Volume sampah di lokasi pembuangan sampah alami penurunan terutama pada sejumlah sekolah yang masih diliburkan selama Covid-19,” terang Hendrik.
Setiap hari rata rata ia bisa mendapatkan sampah daur ulang jenis kertas, plastik mencapai 50 kilogram. Sampah tersebut akan disortir untuk mendapatkan bahan daur ulang yang bernilai jual.
Penurunan volume sampah di pasar tradisional juga diakui Rusmini salah satu pedagang. Menjual berbagai jenis buah lokal ia memastikan tetap memakai kemasan plastik. Namun kemasan plastik tersebut umumnya jenis sekali pakai.
“Pada pasar tradisional sampah organik lebih dominan sehingga pengepul merupakan pembuat pupuk organik dan pemilik ternak,” cetusnya.
Pemanfaatan sampah organik di pasar tradisional menurutnya ikut terpengaruh penurunan volume sampah. Sejumlah pemilik ternak kambing,sapi kerap mengangkut sampah hingga puluhan kuintal per hari.
Nurhadi, petugas kebersihan dari Kelurahan Kangkung menyebut volume sampah menurun saat Covid-19. Faktor kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan menurutnya ikut andil mengurangi sampah.
“Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan juga ikut meningkat selama pandemi sehingga volume sampah berkurang,” paparnya.