Ritual ‘Pati Ka’ di Danau Kelimutu, Memberi Makan Arwah
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
ENDE – Ritual Pati Ka atau (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) merupakan puncak acara yang digunakan dalam rangkaian upacara ritual di Kelimutu sebagai lokasi persembahan dan pemberian makan kepada para arwah di Danau Kelimutu.
Ritual dimulai dengan acara adat di Pere Konde dimana Etnis Lio meyakini tempat tersebut sebagai gerbang masuk bagi para arwah yang akan berdiam di kawah Danau Kelimutu yang terdiri atas 3 danau.
“Ritual Pati Ka puncaknya dilaksanakan di kawah Danau Kelimutu yaitu di sebelah barat Danau Atapolo dan Danau Ko’ofai Nuwa Muri,” kata Philipus Kami, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Minggu (16/8/2020).

Lipus sapaannya menyebutkan, area Pati Ka ini berada di sebelah kiri jalan menuju puncak Danau Kelimutu yang terdapat Tubu Musu, batu untuk meletakkan persembahan atau sesajen.
Saat ritual kata dia, biasanya mosalaki dari 21 komunitas adat sekitar Danau Kelimutu akan berdiri mengelilingi Tubu Musu dan berdoa.
Usai dilantunkan doa, sebutnya, ritual dilanjutkan dengan memberikan sesajen di Tubu Musu dan diakhiri dengan menari gawi bersama.
“Saat menari Gawi biasanya dilantunkan syair berisi puji-pujian dan ungkapan syukur atas segala yang telah diperoleh selama setahun. Biasanya sesajian yang diberikan berupa daging, nasi, sirih pinang dan arak,” jelasnya.
Ketua Forum Komunitas Adat Kelimutu, Yohanes Don Bosco Watu, mengungkapkan, ritual awal dilakukan di Pere Konde sebelum halaman parkir Danau Kelimutu, dimana tempat tersebut merupakan pintu gerbang bagi orang yang telah meninggal dunia untuk memasuki dunia arwah.
Komunitas adat Etnis Lio, ungkap Yohanes, meyakini bahwa di Pere Konde, para arwah akan diadili sesuai dengan umur mereka dan amal baik yang dilakukan selama mereka mengembara di dunia ini.
“Setelah diadili di Pere Konde, arwah tersebut menurut kepercayaan kami akan berdiam di tiga kawah Danau Kelimutu yakni Tiwu Ata Polo, Tiwu Koofai dan Tiwu Ata Bupu,” ujarnya.
Yohanes menjelaskan, ritual adat Pati Ka tetap dilaksanakan setiap tahun pada 14 Agustus dan merupakan tanggal pasti yang tidak bisa dimajukan atau diundur.
Untuk diketahui, saat menuju Danau Kelimutu, Pere Konde berada di pinggir jalan dan ada batu penanda. Di lokasi ini ada sebuah tebing batu yang terlihat menyerupai gerbang.
Masyarakat Etnis Lio mempercayai, penjaga tempat ini adalah Konde Ratu yang merupakan sepasang suami-istri yang menguasai Danau Kelimutu. Konde berwujud perempuan dan Ratu adalah laki-laki.