Petani Lamaholot Miliki Ragam Pangan Lokal
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LARANTUKA — Masyarakat etnis Lamaholot tersebar di Kabupaten Flores Timur meliputi Pulau Adonara, Solor dan Flores Daratan serta di Kabupaten Lembata dan Alor.

Para petani Lamaholot memiliki beraneka ragam pangan lokal dimana ada puluhan jenis pangan lokal yang terdiri dari biji-bijian seperti padi-padian dan kacang-kacangan, umbi-umbian dan buah-buahan serta sayur-sayuran.
“Padi-padian itu terdiri dari aneka vaeritas padi, aneka vaeritas jagung, jewawut, dela dan sorgum. Ada padi kuma, padi ula ipe, padi lako, dan berbagai jenis padi,” kata Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, Melky Koli Baran, Senin (24/8/2020).
Melky katakan, padi lako adalah jenis padi yang aromanya seperti aroma musang sementara jagung lokal meliputi jagung kuning, jagung putih dan campuran putih, kuning dan ungu serta jagung pulut.
Dari segi usia sebutnya, petani punya jenis-jenis padi dan jagung dengan usia pendek 100 hari dan 120 hari. Demikian juga dengan aneka kacang-kacangan yang menurutnya jumlahnya mencapai lebih dari 10 jenis dengan nama masing-masing.
“Semua jenis tanaman biji-bijian ini juga punya usia yang berbeda. Petani punya pengetahuan tentang siklus tanam dan panen sesuai usia tanaman dan juga persediaan curah hujan. Ini kami dapatkan saat kami bahas dan analisisis iklim bersama para petani,” terangnya.
Melky menjelaskan, informasi yang didapatkan dari para petani bahwa keragaman pangan ini mulai menurun dan nyaris hilang saat ini, bermula di tahun 70-an akhir dan 80-an awal.
Aneka jenis tanaman pangan ini mulai kurang dijaga dan dipulihkan lagi oleh petani. Hampir di setiap kebun petani kata dia, sulit ditemukan adanya tanaman pangan lokal.
Petani Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Bonifasius Kolah mengakui, pangan lokal sulit ditemukan lagi di kebun petani seperti jagung dan padi varietas lokal.
Sejak tahun 1980-an kata Boni sapaannya, petani lebih memilih menanam jagung hibrida dan kompsit serta aneka jenis padi ladang dimana semua benihnya berasal dari bantuan pemerintah.
“Banyak petani yang beralih menanam jagung dengan benih bantuan pemerintah karena tergiur hasilnya lebih memuaskan. Ini yang menyebabkan jenis jagung lokal perlahan mulai hilang,” ungkapnya.