MAHASUCI Allah yang telah menciptakan manusia dengan “kedua tangan-Nya”, sebagaimana kehendak-Nya memuliakan Adam dan keturunannya, sehingga memiliki kemampuan memikul amanah, yang tidak sanggup di pikul oleh langit, bumi maupun gunung-gunung.
Shalawat atas junjungan Nabiullah Muhammad saw, kekasih-Nya, cahaya di atas cahaya, pena utama, manifestasi dari akhlak Al-Quran; penerima jiwa dan akal universal, sehingga menjadi rahmatan lil ‘alamiin.
Beliau dalam keindahan sifat-Nya telah bersabda: “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya”. “Seorang mukmin melihat dengan cahaya-Nya”.
Kesucian ma’rifat kepada Allah terdiri atas kesucian ma’rifat dengan sifat-sifat Allah dan kesucian ma’rifat dengan dzat-Nya. Kesucian ma’rifat dengan sifat-Nya bisa diperoleh melalui talqin dan pembersihan cermin hati dengan nama-nama-Nya dari hasrat kemanusiaan dan hasrat kebinatangan. Jika hati telah suci (terbebas) dari hasrat kemanusiaan, dan hasrat kebinatangan, mampulah hati itu melihat cahaya Allah dengan mata hatinya, dan mampu melihat pantulan keindahan-Nya.
Pembersihan hati dilakukan dengan senantiasa mengucapkan nama-nama Allah, hingga jika telah sempurna, akan menghasilkan pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya dengan menyaksikan sifat-sifat-Nya melalui cermin hati.
Sedangkan kesucian ma’rifat yang terkait dengan dzat-Nya terdapat dalam sirr. Kesucian ini hanya dapat diraih dengan bergantung kepada tiga nama tauhid yang terakhir dari dua belas nama Allah yang terdapat dalam inti sirr, dengan cahaya tauhid. Demikianlah yang disampaikan Syekh Abdul Qadir al-Jailani (semoga Allah senantiasa merahmatinya).
Lebih jauh beliau menjelaskan; ketika cahaya zat-Nya terpancar, maka cahaya selain-Nya akan meredup dan hilang secara total. Inilah maqam al-istihlaki (tempat munculnya sifat Esa yang menjadi sumber semua nama), dan merupakan maqam fana al-fana (tempat bergantinya sifat kemanusiaan dengan sifat ketuhanan. Dan inilah yang kami sebut dalam judul tulisan ini sebagai “menjadi Ilahi”.
Kebinasaan selain Allah ada pasti, sebagaimana firman-Nya: “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Asy-Syura (48):88).
Ketika ini terjadi, maka roh yang suci (ruhul qudusiy) akan abadi dengan cahaya kesucian, seraya memandang-Nya, memandang dengan-Nya, dan bersama-Nya. Cahaya kesucian tersebut memberi petunjuk (bagi orang yang dikarunia Allah mencapai maqam ini) tentang diri-Nya dengan cara yang tidak dapat digambarkan dan tanpa menyerupakan-Nya.
Inilah yang dimaksud dalam firman-Nya; “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura (42): 11)
Nabi SAW bersabda: “Bersama Allah, aku memiliki kesempatan yang banyak, yang tidak dimiliki oleh malaikat yang dekat dengan-Nya maupun oleh nabi yang diutus-Nya”.
Inilah alam al-tajrid (penarikan diri sepenuhnya) dari selain Allah, sebagaimana dikatakan dalam hadits qudsi, “Tariklah dirimu, niscaya engkau sampai kepada-Ku.”
Yang dimaksud dalam hadits ini menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah meniadakan secara total semua sifat kemanusiaan dari dirinya secara total, sehingga hanya ia sendiri yang berada di alamnya seraya tersifati dengan sifat Allah.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah.” Maksud dari hadits ini adalah sifatilah diri kalian dengan sifat Allah swt.
Jiwa universal hanya diberikan kepada kekasih-Nya Muhammad saw, karena itu hanya beliau yang diberi anugerah oleh-Nya mensifati diri-Nya melalui diri-Nya dengan sifat-Nya. Sementara manusia lainnya di anugerahi jiwa partikular, sehingga mustahil mengambil seluruh sifat-Nya sebagai akhlak-Nya.
Namun, jika seseorang dianugerahi oleh Allah swt dengan salah satu sifat-Nya, maka cukuplah baginya sebagai sarana untuk sampai kepada-Nya, dengan memanfiestasikan sifat yang dianugerahkan-Nya itu.
Semoga Allah swt, melipatgandakan kemuliannya dan keagungan-Nya kepada Nabiullah Muhammad saw, beserta keluarganya, para sahabatnya, para tabiin wattabiin, kepada para guru-guru yang telah mengajari kita, dan kepada kita semua umatnya semoga senantiasa dalam bimbingan Allah swt. ***
Depok, 7 Agustus 2020