Tradisi Mapacci Suku Bugis Lestari di Lampung Selatan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Tradisi penyucian diri calon pengantin masih tetap dilakukan jelang acara pernikahan, oleh sejumlah suku di Indonesia, salah satunya Bugis.

Hajah Minah, wanita keturunan Bugis dari Sulawesi Selatan dan menetap di Lampung Selatan, menyebut dalam adat Bugis dikenal Mapacci. Prosesi mapacci tetap dilestarikan oleh warga Bugis, meski telah menetap di Lampung.

Wanita berusia 90 tahun tersebut, menerangkan calon pengantin khususnya wanita, harus disucikan sebelum menikah. Mapacci tetap diwariskan secara turun temurun agar calon pengantin memiliki jiwa dan badan yang bersih. Kata mapacci, menurutnya berasal dari kata pacci yang bermakna daun pacar. Prosesi menggosok daun pacar atau pacci menjadi asal sebutan ritual sakral tersebut.

Sebagai wanita yang dituakan, ikut berdoa dan mendampingi calon pengantin yang duduk di pelaminan atau laming. Calon pengantin yang duduk sendirian juga disebut dengan malam tudang peni, yang bermakna duduk sendirian.

Saat duduk sendirian tanpa pendamping, kerabat akan menemani. Salah satu anggota keluarga bernama Rahma, akan melangsungkan pernikahan.

Hajah Minah (90), mendoakan serta mendampingi calon pengantin pada malam Mapacci, Minggu (19/7/2020). -Foto: Henk Widi

“Karena calon mempelai laki-laki berasal dari suku Lampung, maka prosesi mapacci dilakukan oleh calon pengantin wanita untuk melestarikan tradisi leluhur dalam penyucian diri,” terang Hajah Minah, Minggu (19/7/2020) malam.

Sebagai warga asli Bugis yang memeluk agama Islam, prosesi mapacci memiliki makna religius. Malam mapacci diisi dengan doa shalawat, khatam Quran bagi calon pengantin yang dipandu oleh guru ngaji. Mengundang warga sekitar untuk berdoa, menjadi bagian mapacci untuk mendoakan calon pengantin dan keluarganya dilanjutkan dengan makan bersama.

Sebelum acara mapacci, ustad akan memimpin doa yang dihadiri oleh kaum laki-laki. Pembacaan doa oleh ustad akan diiringi dengan khatam Quran oleh calon pengantin wanita, sebagai simbol bekal untuk selalu rajin membaca Alquran saat menikah. Dipandu oleh guru ngaji, sejumlah surat akan dibacakan dengan memakai gulungan kulit pohon kayu manis.

“Maknanya agar calon pengantin ingat, bahwa dalam membangun keluarga harus tetap mengamalkan surat Alquran,” cetusnya.

Usai doa doa, prosesi mapacci dilanjutkan dengan acara adat di pelaminan yang disiapkan. Pohon pacar telah disiapkan pada appaccingeng, yang diisi beras menyimbolkan kesatuan jiwa, kerukunan hidup dalam rumah tangga. Sejumlah sarana lain disiapkan berupa pohon telur maulid atau bayac maudu, yang ditancapkan pada batang pisang dirangkai lengkap bersama bendera.

Berbagai sarana yang disiapkan memiliki makna yang mendalam untuk penyucian dan bekal saat pernikahan.

Usai doa, setiap kerabat terdekat akan bersimpuh di depan calon pengantin wanita. Dominan kerabat akan dipanggil sesuai urutan yang tertua dari paman, bibi dan saudara sekandung ayah dan ibu calon pengantin.

“Saat kerabat terpilih dipanggil, daun pacci akan digosokkan pada tangan pengantin sembari berdoa, memberi petuah dilanjutkan menaburkan beras kering,” terang Hajah Minah.

Ambo Kamarudin (80), sang kakek mempelai wanita asal Bone, menyebut mapacci menjadi simbol mempererat kekeluargaan. Sebab, saat menggosokkan daun pacci, kerabat bisa memberikan pesan, wasiat dan bekal bagi pengantin. Bekal tersebut bagi kerabat bisa berupa emas, uang yang berguna untuk membangun keluarga baru.

Suryana memegang pohon telur yang akan dibagikan kepada anak-anak dan warga yang ikut mendoakan calon pengantin pada malam mapacci, Minggu (19/7/2020). -Foto: Henk Widi

Pemberi daun pacci umumnya merupakan kerabat yang telah berkeluarga. Menggosok daun pacci memiliki makna mengusir pengaruh buruk saat hari pernikahan. Sementara bagi kerabat yang belum menikah, mapacci dilakukan dengan mengucapkan selamat sembari memberikan kado untuk calon pengantin. Kado berupa alat rumah tangga untuk bekal membangun keluarga baru.

“Selama mapacci akan diiringi doa-doa dan taburan beras sebagai simbol agar kemakmuran selalu dicurahkan,” beber Ambo Komarudin.

Semua kerabat dan tetangga yang mengikuti prosesi mapacci akan dilanjutkan dengan malam tirakatan. Telur rebus yang ditancapkan dibagikan kepada anak-anak dan makan bersama dilakukan sebagai rangkaian akhir mapacci.

Malam tirakatan diisi dengan khatam Alquran atau kegiatan berjaga menemani anggota keluarga. Sejumlah persiapan juga dilakukan untuk  hari pelaksanaan pernikahan.

Lihat juga...