Pemda Sikka Diminta Datangkan Investor Perikanan
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Harga beli ikan dari nelayan di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masih sangat rendah. Hanya satu perusahaan yang membeli ikan dari nelayan dengan harga murah saat pandemi Corona.
Kondisi ini membuat nelayan berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Sikka bisa mendatangkan investor untuk membeli ikan pelagis besar seperti tuna dan cakalang serta pelagis kecil seperti selar dan layang.
“Saat tangkapan melimpah maka harga ikan merosot tajam sehingga nelayan mengalami kerugian akibat besarnya biaya produksi,” tegas Mahmud, nelayan asal Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (29/7/2020).
Menurut Mahmud, perusahan ikan yang beroperasi di Kabupaten Sikka harus perusahaan besar yang bisa membantu biaya produksi nelayan. Dia mengatakan, semua biaya produksi baik bahan bakar, makanan, es balok dan lainnya harus disiapkan perusahaan.
Hasil tangkapan dari nelayan sambungnya, wajib dijual ke perusahaan tersebut namun harga jualnya harus sesuai pasar agar nelayan tidak dirugikan. Apabila harga jual ditentukan perusahaan di bawah harga pasar maka nelayan tentu tidak menjual ikannya ke perusahaan.
“Harusnya harga jual ke perusahaan juga bagus agar nelayan jangan dirugikan. Sistem mitra saling menguntungkan yang kami inginkan sehingga tidak menjual ikan ke pembeli lain yang menawar dengan harga yang lebih mahal,” terangnya.
Tentunya saat menjual ikan ke perusahaan kata Mahmud, pihak perusahaan akan memotong biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan. Nelayan pun merasa terbantu biaya produksi ditangani perusahaan telebih dahulu dan dipotong hasil tangkapan asal harga jual tidak lebih rendah dari harga pasar.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur mengatakan, di Kabupaten Sikka dikembangkan pola kemitraan antara perusahaan dan nelayan.

Menurut Paul sapaannya, semua aktivitas perikanan ke depan akan dikembangkan pola kemitraan inti dan plasma serta saling menguntungkan. Intinya perusahaan dan plasmanya nelayan kata dia, dimana inti berkewajiban menyediakan sarana produksi seperti es dan perbekalan.
“Ikan hasil tangkapan nelayan tentu akan dijual ke perusahaan dengan harga internasional. Pola seperti ini yang menguntungkan nelayan karena banyak nelayan yang kesulitan biaya produksi untuk menangkap ikan,” ujarnya.
Paul menambahkan, sarana penangkapan ikan seperti kapal milik masyarakat bukan perusahan. Dengan pola kemitraan sebutnya, tidak ada lagi bentrok antara nelayan dan perusahaan ikan.
Selama pandemi Corona sambungnya, harga jual ikan mengalami penurunan karena daya beli masyarakat menurun dan semua disarankan berada di rumah. Perusahaan pun ucapnya, mengalami kerugiaan karena ikan tidak bisa dijual ke luar daerah maupun diekspor ke berbagai negara.