Pemanfaatan Iptek Nuklir dalam Pengembangan Varietas Padi Lokal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Walaupun teknologi pemuliaan tanaman sudah lama dikenal dalam ranah pengembangan varietas, tapi upaya sosialisasi iradiasi tanaman dalam menghasilkan varietas unggul, masih terus dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Hal ini, merupakan upaya BATAN untuk lebih menghilirkan dan membumikan potensi pengembangan iptek nuklir dalam hal meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan, menyampaikan bahwa dalam usia BATAN yang 62 tahun, diakui masih harus dilakukan upaya yang lebih keras dalam mensosialisasikan pengembangan iptek nuklir. Yang kali ini, adalah terkait sektor pertanian.

“Pemuliaan tanaman ini, selain untuk menghasilkan produk baru oleh BATAN juga digunakan untuk membantu daerah dalam mengembangkan varietas lokal daerah,” kata Anhar dalam seminar online yang digelar oleh BATAN PAIR, Senin (20/7/2020).

Tercatat, sudah ada sekitar 45 varietas produk pertanian yang dikembangkan dengan menggunakan iptek nuklir.

“BATAN selama ini sudah bekerja sama dengan pihak Universitas Sam Ratulangi, pemda Klaten, pemda Sijunjung dan juga pemda Musi Rawas dalam mengembangkan varietas unggulan,” ucapnya.

Dengan semakin banyak sosialisasi terkait iptek nuklir ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mengaitkan nuklir dengan bom atom atau hal lainnya yang berkonotasi berbahaya.

“Ini sesuai dengan amanat Bung Karno, yang pada pembukaan reaktor riset di Bandung menyatakan penggunaan energi atom dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Sehingga BATAN, dalam hal ini terus berupaya berkontribusi aktif membantu pemerintah mewujudkan swasembada pangan,” ujar Anhar.

Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, Totti Tjiptosumirat, menyatakan tujuan sosialisasi hasil pengembangan BATAN ini, adalah sebagai bukti bahwa pemanfaatan iptek nuklir pada tanaman bersifat aman dan dapat digunakan untuk mendukung kemaslahatan manusia.

Kepala PAIR BATAN Totti Tjiptosumirat saat dijumpai awak media beberapa waktu lalu – Foto: Ranny Supusepa

“Sekaligus untuk mengundang para pemangku kepentingan untuk bekerja sama memanfaatkan aplikasi isotop dan radioaktif dalam meningkatkan perekonomian. Terutama di saat pasca pandemi seperti saat ini,” ungkap Totti pada kesempatan yang sama.

Dalam hal pemuliaan tanaman, Totti menyebutkan ada beberapa sektor yang dikerjakan.

“Yaitu sektor analisis keamanan pangan, analisis biomolekuler, seleksi galur mutan unggul dan perakitan varietas unggul hasil mutasi radiasi,” urainya.

Dalam periode 2015-2019, Totti menyebutkan sudah ada tiga varietas padi lokal, yaitu Srinak, Srinur dan Lampai Sirandah yang dikembangkan.

“Dan dalam skala nasional, ada varietas Sinar 1 dan Sinar 2,” pungkasnya.

Lihat juga...