Kemenperin Percepat Kesiapan KIT Batang Tampung Investor

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Dody Widodo (kiri) bersama Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono (tengah) mendampingi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) ketika meninjau pengembangan Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6). -Ant

JAKARTA – Kementerian Perindustrian mengakselerasi kesiapan sejumlah Kawasan Industri Terpadu (KIT), yang akan dijadikan lokasi menampung sejumlah pabrikan multinasional yang ingin relokasi ke Indonesia.

“Salah satunya yang sedang kami akselerasi pembangunannya adalah Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Dody Widodo, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (26/7/2020).

Pada Jumat (24/7), Dirjen KPAII kembali meninjau progres pembangunan KIT Batang. Ia mengatakan, pemerintah ingin pembangunan 450 hektare dari total lahan 4.300 hektare dan bisa selesai dalam kurun waktu enam bulan.

Menurut Dody, dari segi infrastruktur, KIT Kabupaten Batang memiliki banyak kelebihan dan daya tarik untuk menjawab keluhan para investor.

“Biasanya, keluhan utama dari investor, yakni tentang harga lahan yang bergejolak tinggi setelah ditetapkan menjadi kawasan industri. Namun, harga lahan dan fasilitas di KIT Batang mampu bersaing dengan kawasan industri di negara lain seperti Cina,” katanya.

Kemenperin mendukung pengembangan KIT Batang dengan konsep ‘The Smart and Sustainable Industrial Estate’. Artinya, KIT Batang ini nantinya dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti perumahan pekerja, unit pendidikan, layanan kesehatan, dan ketersediaan rantai pasok antara sektor industri.

“Sekitar 108 hingga 2.027 hektare akan dibangun sampai 2024, tidak hanya sebagai daya tarik, tapi menjadi supply chain di koridor Pantura Jawa,” tuturnya.

KIT Batang ditargetkan untuk menjadi kawasan industri percontohan kerja sama antara pemerintah dan BUMN, dengan konsep infrastruktur dasar dan pendukung disediakan oleh pemerintah.

Infrastruktur tersebut meliputi akses jalan untuk tol dan non-tol, penyediaan air baku dan air bersih, kereta api, listrik, gas, terminal kontainer darat (dry port) dan pelabuhan. Di samping itu, KIT Batang akan dikembangkan sesuai kluster industri, bukan berdasarkan asal negara.

KIT Batang juga didorong untuk mengalokasikan minimal lima persen dari luas lahan untuk klaster Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini sesuai dengan asas efektifitas dan efisiensi ekonomi, untuk memudahkan penyediaan fasilitas pendukung.

Bupati Batang, Wihaji, mengatakan pihaknya meminta dukungan dari berbagai kementerian dengan regulasinya untuk mempercepat kehadiran investor di KIT Batang. Sebab, ketika ada investasi, efeknya berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan perputaran uang sehingga memacu perekonomian.

Wihaji menganalogikan, KIT Batang bagai bunga yang siap dihinggapi oleh lebah yang akan menghasilkan madu.

“Inilah analogi KIT Batang yang kita persiapkan bunga-bunganya agar lebah berdatangan yang akhirnya melahirkan madu,” katanya.

Rencananya, tujuh perusahaan global yang berkomitmen menanamkan modal di KIT Batang dengan nilai 850 juta dolar AS atau sekitar Rp11,9 triliun, dan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 30.000 orang.

Ketujuh perusahaan tersebut merelokasi bisnisnya dari Cina, Jepang, Taiwan, Thailand, Malaysia dan Korea Selatan. (Ant)

Lihat juga...