Inilah Sumbangan Pemikiran Dua Profesor Baru Universitas Brawijaya
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MALANG – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah jumlah profesornya dengan mengukuhkan dua profesor baru yakni Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, MS dari Fakultas Pertanian (FP) dan Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU dari Fakultas Teknik (FT). Tercatat, dengan tambahan dua profesor tersebut, hingga saat ini UB telah berhasil menghasilkan 264 profesor.
Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, MS yang dikukuhkan sebagai Profesor di Bidang Ilmu Ekologi Tanaman, menyampaikan, sebagai negara tropis, Indonesia sebenarnya kaya akan sinar matahari. Namun sayangnya hingga saat ini limpahan sinar matahari tersebut belum dikonversikan secara maksimal untuk meningkatkan produksi budidaya pertanian.
“Jika dibandingkan negara lainnya dimana matahari hanya bersinar 6-8 jam, di Indonesia matahari bersinar 12 jam per hari. Tapi sayangnya sinar matahari yang tersedia secara gratis tersebut belum bisa dimaksimalkan semaksimal mungkin,” sebutnya, dalam pidato ilmiah yang mengangkat judul “Strategi Peningkatan Efisiensi Konversi Energi Matahari pada Sistem Produksi Pertanian melalui Pengelolaan Pola Tanam” di gedung Widyaloka UB, Rabu (22/7/2020).

Dikatakan Agus, produktivitas tanaman pertanian sangat dipengaruhi oleh kemampuan tanaman dalam mengkonversi energi matahari menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Oleh sebab itu dengan memaksimalkan konversi energi matahari menjadi energi kimia diharapkan tidak perlu lagi mengandalkan input sarana produksi buatan seperti pupuk kimia yang justru menyebabkan adanya penambahan biaya produksi sekaligus tidak ramah lingkungan.
Hanya saja konversi energi matahari menjadi energi kimia, efisiensinya sangat rendah, yaitu hanya sekitar dua persen saja. Menurutnya, Nilai Efisiensi Konversi Energi (EKE) yang rendah tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya pemantulan dan penerusan energi matahari yang jatuh pada tajuk tanaman, penggunaan sebagian energi matahari untuk transpirasi dan pembongkaran kembali hasil fotosintesis dalam proses respirasi.
“Tapi bisa juga disebabkan oleh sistem budidaya tanaman yang kurang tepat sehingga mengakibatkan energi matahari tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal guna meningkatkan produktivitas tanaman,” urainya.
Pengaturan pola tanam yang memadukan sifat fisiologis tanaman dalam sistem produksi pertanian dan lingkungan tanaman khususnya intensitas radiasi matahari yang berlimpah, akan memperoleh nilai EKE matahari yang optimal, yang diikuti dengan peningkatan produksi tanaman budidaya.
“Dari hasil penelitian saya menunjukkan bahwa perbaikan lingkungan tanaman dengan penataan pola tanam, dalam hal ini mengatur waktu tanam, pemilihan varietas berdaun tegak (errect) dan tata letak tanaman dalam baris ganda pada tanaman padi, kemudian pemberian mulsa dan penggunaan tata letak baris ganda pada tanaman jagung serta penambahan populasi maupun penanaman secara tumpangsari pada tanaman kentang, ternyata mampu meningkatkan EKE antara 1-3 persen tergantung perlakuan dan jenis tanaman. Peningkatan EKE ini diikuti pula dengan peningkatan produksi tanaman hingga 50 persen,” tandasnya.
Sementara itu Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU yang dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Ilmu Rekayasa Sistem Daya dan Kecerdasan Buatan, dalam sambutannya yang mengambil judul terkait “Strategi Percepatan Integrasi Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan pada Sistem Tenaga Listrik di Indonesia”, mengatakan saat ini kebutuhan akan energi listrik baik di dunia global dan di Indonesia pada setiap tahunnya mengalami peningkatan seiring peningkatan dan perbaikan ekonomi global.
Dimana sumber energi listrik terbesar masih disuplai oleh pembangkit dengan bahan bakar fosil yaitu batu bara, minyak bumi, dan gas alam.
“Peningkatan konsumsi energi listrik juga terjadi di Indonesia. Pada akhir tahun 2018 terjadi peningkatan sebesar 5,1 persen dibandingkan dengan tahun 2017, dengan peningkatan rata-rata per tahun sebesar 6,2 persen sejak tahun 2000,” terangnya.
Oleh sebab itu, guna mengurangi kelangkaan bahan bakar fosil yang ketersediaannya mulai berkurang, dan untuk mengurangi pencemaran lingkungan, maka pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) perlu diimplementasikan dan dikembangkan.
Menurut Hadi, Indonesia dengan kondisi geografisnya mempunyai potensi pembangkit EBT yang sangat besar dan masih belum banyak dieksploitasi dan dikembangkan. Karena itu masih perlu banyak usaha dan kesempatan untuk implementasi EBT pada sistem kelistrikan di Indonesia, yang mempunyai banyak keuntungan seperti ramah lingkungan dan ketersediaan sumber primernya sangat banyak, tak terbatas.
“Karena itu perlu adanya strategi akselerasi implementasi pembangkit EBT untuk mencapai target yang telah dibuat di antaranya dengan penguatan dan implementasi regulasi yang telah pemerintah buat, pengembangan sistem pembangkit hibrida pada sistem yang telah ada yang biasanya menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), implementasi dan pengembangan injeksi pembangkit EBT pada sistem distribusi serta meningkatkan integrasi hybrid pembangkit listrik tenaga surya dan angin,” sebutnya.
Sementara itu Ketua Senat UB, Prof. Dr. Ir.Arifin, MS berharap dengan tambahan profesor baru bisa memacu pengembangan fakultas masing-masing.
“Semoga kehadiran dua profesor ini menjadi lebih menyemarakkan atmosfir akademik, menyemarakkan kajian-kajian baru, temuan-temuan baru untuk membawa UB semakin maju dan berkembang,” ucapnya.
Hadirnya dua profesor baru ini, menurut dia, merupakan modal yang harus dimanfaatkan untuk menopang kepentingan UB yang lebih luas dalam rangka memajukan UB dalam mempersiapkan diri sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).