Booming Tanaman Hias di Semarang, Pedagang Raup Omzet Menggiurkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Booming tanaman hias di tengah pandemi covid-19, benar-benar dirasakan Agus Wahyudi. Betapa tidak, setiap hari puluhan pembeli menyambangi lapak dagangan miliknya di kawasan Gunungpati Semarang.

Tidak sekedar melihat, mereka pun bisa dipastikan membeli bahkan memborong beragam tanaman yang ada, mulai dari yang harga ribuan, puluhan, ratusan sampai jutaan rupiah.

“Hampir semua jenis tanaman hias sekarang laku dijual, termasuk tanaman yang dulu tidak pernah dilirik, ternyata sekarang dicari. Misalnya jenis keladi atau lompong-lompongan. Meski harganya murah, antara Rp 10 ribu – Rp 25 ribu, namun ada yang beli,” paparnya saat ditemui di lapak miliknya, di Semarang, Jumat (24/7/2020).

Booming tanaman hias di tengah pandemi covid-19, membawa berkah bagi pedagang tanaman hias. salah satunya aglonema, yang banyak diburu penggemar tanaman hias, Jumat (24/7/2020) – Foto: Arixc Ardana

Diantara jenis tanaman hias yang ada, jenis aglonema kini sedang naik daun. Harga jualnya pun cukup melambung, hingga ratusan ribu untuk satu pot tanaman. Penentuan harga aglaonema juga kerap didasarkan pada banyaknya jumlah daun.

“Jenis aglaonema sekarang bermacam-macam, paling murah aglonema lipstik, Rp 25 ribu. Cirinya berdaun hijau dengan pinggiran daun berwarna merah. Sementara yang paling mahal, jenis red kochin hingga red sumatera. Hampir seluruh daunnya berwarna merah, harganya bervariasi antara Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu. Tergantung ukuran dan jumlah daun,” terangnya.

Tidak hanya sekedar menjual, dirinya juga membudidayakan aglaonema. Kini, permintaan tanaman daun eksotik tersebut terus naik, sementara stok juga semakin terbatas. “Terbaru jenis tri warna, atau tiga warna, yakni berdaun hijau namun ada warna putih dan merah di bagian tengahnya. Lebih mahal lagi,” lanjut Agus.

Dipaparkan, jenis aglonema kini kian beragam, karena banyak yang melakukan persilangan. Hasilnya pun semakin bervariasi. Tidak hanya aglonema, tanaman hias lain pun banyak diburu, termasuk kaktus, monstera, walisongo, anggrek hingga bonsai.

Tingginya minat masyarakat untuk membeli tanaman hias pun memberi berkah tersendiri bagi Agus. Per bulan, omzet penjualannya mencapai puluhan juta rupiah.

“Alhamdulillah, sudah empat bulan terakhir ini permintaan tanaman hias tinggi. Rejekinya juga bertambah, sebab yang dijual juga tidak hanya tanaman, namun juga pupuk, media tanam hingga pot untuk bunga atau tanaman lainnya,” jelasnya.

Tidak hanya Agus, berkah dari booming tanaman hias, juga dirasakan oleh Setiono, pedagang tanaman hias lainnya. Lapaknya pun hanya dipisahkan oleh deretan tanaman hias dari milik Agus. Tercatat ada sekitar 20 pedagang tanaman hias yang berkumpul, dan membentuk kampung tanaman hias di kawasan Gunungpati Semarang tersebut.

“Rata-rata yang dicari memang aglonema, namun banyak juga yang tanya tanaman hias lain. Namun yang jelas, sekarang ini memang lagi booming. Bahkan saya juga melayani penjualan lewat online, untuk pembeli yang tidak sempat ke sini,” terangnya.

Tidak hanya sekedar menjual, banyak dari pembeli juga berkonsultasi tentang cara perawatan hingga penanaman tanaman hias. Hal ini tidak lepas dari banyaknya pehobi baru, sehingga belum berpengalaman.

“Paling banyak ditanyakan soal perawatan aglonema. Ini jenis tanaman yang tidak tahan air dan sinar matahari langsung. Kalau terlalu banyak kena air atau sering disiram, justru akarnya mudah busuk dan bisa merambat ke daun,” jelasnya.

Aglonema menjadi tanaman hias yang banyak ditanam di dalam pot. Warna dan corak daunnya menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar tanaman hias. Oleh karena itu, butuh perawatan yang tepat agar tanaman daun ini bisa tahan lama.

“Aglonema butuh komposisi media tanam yang pas, agar bisa tumbuh dengan baik. Untuk memudahkan, kita sudah menyediakan media tanam khusus untuk aglonema. Isinya campuran antara pupuk kandang, sekam kering, sekam bakar, hingga pasir,” ungkapnya.

Bila media tanam tak sesuai, aglonema bisa tidak tumbuh atau cepat busuk. “Aglonema ini termasuk tanaman yang cepat menyerap air. Tanaman ini tak boleh terlalu kering tapi tak boleh terlalu basah juga. Harus pas. Jadi, penyiraman bisa dilakukan sekitar dua atau tiga hari sekali. Kalau udara sedang lembab bisa seminggu sekali,” terangnya.

Setiono menambahkan, tanaman aglaonema juga tidak bisa terkena sinar dan panas matahari langsung. “Jadi sebisa mungkin tanaman ini ditempatkan pada tempat teduh. Sebab, jika terlalu banyak terkena panas matahari langsung, daun-daun akan berubah warna menjadi kecokelatan, hingga mengering,” pungkasnya.

Lihat juga...