Usaha Penggilingan Hasil Pertanian Banjir Order Saat Puncak Panen
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Usaha penggilingan hasil pertanian di Lampung Selatan (Lamsel) banjir order saat puncak panen. Jenis komoditas yang mengalami puncak panen di antaranya kopi, kakao.
Samsul, pemilik usaha penggilingan komoditas pertanian berupa kopi, kelapa, kakao dan bumbu dapur menyebut order meningkat sejak sebulan silam.
Usaha penggilingan di pasar tradisional Desa Belambangan, Kecamatan Penengahan itu buka setiap hari. Pada kondisi normal Samsul menyebut konsumen kerap membawa kopi kering yang telah disangrai untuk digiling.
Jasa giling kopi menurutnya banyak dimanfaatkan oleh petani yang ingin mendapatkan kopi bubuk. Ia mematok tarif Rp10.000 per kilogram untuk per kilogram kopi.

Jenis kopi arabica yang banyak ditanam oleh petani menurutnya sebagian dijual utuh. Namun tren minum kopi dan munculnya sejumlah usaha kedai dan kafe kopi berimbas penggilingan jadi pilihan.
Konsumen dominan akan menjual kopi dalam bentuk bubuk karena memiliki nilai jual tinggi dibandingkan kopi dalam bentuk biji (bean).
“Sebagian konsumen yang menggiling kopi memiliki usaha pengemasan dan menjualnya secara online sebagian dijual sebagai oleh-oleh pada sejumlah toko atau kerap digunakan untuk kebutuhan keluarga,” terang Samsul saat ditemui Cendana News, Selasa (30/6/2020).
Samsul menyebut pada saat kondisi normal dalam sehari ia hanya bisa menggiling puluhan kilogram kopi. Namun sebulan terakhir berbarengan dengan panen kopi ia bisa menggiling lebih dari satu kuintal. Penggilingan kopi meningkat diantaranya imbas sejumlah warga mulai kembali boleh menggelar resepsi pernikahan. Kopi kerap disuguhkan bagi tamu dan kerabat.
Pemilik kopi yang datang menurutnya kerap hanya membuat kopi murni tanpa campuran. Sebagian pemilik kopi akan menggilingnya bersama beras dan jagung sebagai campuran.
Menggiling sebanyak 100 kilogram dengan upah Rp10.000 per kilogram saja ia bisa mendapatkan hasil Rp1 juta per hari. Hasil tersebut belum termasuk memarut kelapa, bumbu.
Selain jasa giling kopi, Samsul juga menyediakan alat pemarut kelapa dan giling bumbu. Ibu rumah tangga yang ingin praktis kerap membeli kelapa darinya sekaligus langsung diparut.
Menjual kelapa seharga Rp4.000 dan langsung diparut konsumen cukup menambah jasa parut Rp1.000 per butir. Permintaan kelapa parut dalam jumlah banyak berasal dari pemilik usaha warung makan.
“Sekali parut bisa mencapai puluhan butir untuk mendapatkan santan yang banyak, kelapa juga saya sediakan,” terangnya.
Berbeda dengan tanaman bumbu yang tak mengenal musim, permintaan berasal dari pedagang bumbu giling dan rumah makan. Berbagai jenis bahan bumbu yang digiling meliputi jahe, kunyit, lengkuas dan kencur.
Berbagai jenis bumbu tersebut kerap pesanan pedagang kuliner. Jenis bumbu dapur digiling dengan tarif Rp6.000 per kilogram.
Pemilik kebun kopi bernama Zainal di Desa Rawi memilih mengolah kopi menjadi kopi bubuk untuk dijual. Memiliki ratusan pohon kopi ia menyebut telah sepuluh tahun silam memiliki alat pengolahan kopi.

Alat yang dimiliki berupa alat penyangrai hingga penggiling. Hasil olahan kopi yang telah menjadi bubuk selanjutnya akan dijual sehingga memiliki nilai lebih tinggi.
“Kalau dijual dalam bentuk biji kopi harganya murah sementara dalam bentuk kopi sangrai dan bubuk lebih mahal,” terang Zainal.
Zainal menyebut puncak panen kopi menjadi peluang usaha baginya. Usai proses sangrai sebagian kopi akan digiling menjadi bubuk. Sebagian kopi yang telah disangrai dijual dalam bentuk utuh.
Kopi utuh sangrai dijual seharga mulai Rp10.000 hingga Rp50.000 dari ukuran 100 gram hingga 500 gram. Sebagian kopi dalam bentuk bubuk dijual mulai Rp15.000 hingga Rp100.000 berbagai ukuran.
Semula Zainal kerap menggiling kopi memakai jasa penggilingan. Namun semenjak ia bisa membeli peralatan penggilingan proses pengolahan dilakukan hingga pemasaran.
Memiliki kedai berkonsep drive thru lengkap dengan saung kayu penikmat kopi bisa bersantai di kebun. Sembari menikmati suasana kebun pengunjung bisa menyeruput kopi gratis dan membeli oleh-oleh bubuk kopi.