Teknologi Bantu Riset Arkeologi di Tengah Pandemi
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Penggunaan teknologi dianggap mampu untuk membantu riset arkeologi selama masa pandemi. Juga dianggap mampu membantu para arkeolog untuk lebih memposisikan arkeologi pada masyarakat maupun industri.
Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, I Made Geria, menyatakan masa pandemi tidak boleh dijadikan alasan bagi para arkeolog untuk berhenti memberikan outcome yang berdampak pada masyarakat maupun kebijakan.
“Selama masa PSBB memang semua dilakukan dari rumah. Tapi memasuki masa new normal, Arkenas akan melakukan penyesuaian sistem kerja yang tetap mengacu pada protokol kesehatan,” kata Made Geria, saat Zoom Webinar, Rabu (17/6/2020).

Ia menegaskan, Arkenas akan tetap berpegang pada patokan outcome berdampak, yaitu memenuhi 20 praktik baik, yang teridentifikasi dan terdokumentasi dalam respiratori online dan 80 persen evidence-based policy yang direkomendasikan untuk policy adjustment.
“Untuk mencapai ini, Arkenas tetap melakukan pelatihan bagi SDM. Selain itu, Arkenas akan meluncurkan program Arkenas Mengajar, di mana para peneliti akan membagi pengalaman penelitian kepada para pelajar. Diskusi juga tetap diadakan dengan berpatokan pada protokol kesehatan,” urainya.
Untuk meningkatkan kinerja Arkenas, Made Geria menyatakan Arkenas membutuhkan teknologi.
“Arkenas membutuhkan teknologi, terutama dalam masa new normal yang memungkinkan para arkeolog tetap bisa melakukan penelitian. Ini tidak hanya untuk peneliti, tapi juga untuk lebih mengenalkan arkeologi pada masyarakat,” tandasnya.
Managing Director ShintaVR, Andes Rizky, menyatakan perkembangan teknologi virtual dapat membantu para arkeolog untuk melakukan penelitian dari yang biasa dilakukan di lapangan, menjadi sistem tidak langsung.
“Immersive technology yang merupakan penggabungan virtual teknologi dan augmented reality dapat digunakan untuk simulasi yang sifatnya lebih advanced,” kata Andes dalam kesempatan yang sama.
Sebagai contoh, ia memperlihatkan hasil Photogametry yang dilakukan oleh Freis University of Berlin, dalam menggambarkan situs Tundrumbaho di Nias.
“Yang menjadi faktor penentu adalah penggunaan alat dan data base. Para pengguna bisa memilih dari alat yang paling mahal hingga paling murah, bergantung pada tujuan pengguna dalam menggunakan data base. Data tersebut tinggal dimasukkan pada program yang saat ini cukup banyak tersedia,” ujarnya.
Dalam penggunaan Immersive Technology, lanjutnya, ada tiga tantangan yang harus dipahami oleh pengguna, agar bisa memberikan hasil yang maksimal.
“Pertama adalah optimisasi vertex 3D dalam penggunaannya dalam alat immersive, yang ke dua cara mengaplikasikan AI dan Machine Learning untuk kepentingan analisa dan yang ketiga adalah bagaimana menyikapi kebutuhan interaksi ilmiah yang berbanding lurus dengan biaya yang dibutuhkan,” pungkasnya.