Taman Srigunting, Lokasi Latihan Militer Era Kolonial Belanda
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
SEMARANG — Setiap bangunan hingga sudut tanah di kawasan Kota Lama Semarang, memiliki sederet cerita tersendiri. Salah satunya, Taman Srigunting, yang sekarang ini sudah disulap menjadi taman asri nan sejuk, dengan pepohonan yang rindang.

Terletak persis di sebelah timur Gereja Blenduk. Taman tersebut, kerap digunakan sebagai lokasi berfoto oleh wisatawan. Selain teduh, dengan beragam pepohonan dan tanaman bunga, juga ada sepeda hias yang bisa menjadi properti untuk berfoto bersama.
“Tempatnya asri, teduh, ada properti buat foto-foto. Taman ini menjadi salah satu lokasi favorit saya, di Kawasan Kota Lama,” papar salah seorang wisatawan, Indah Kumalasari saat dijumpai di taman tersebut, Kota Lama Semarang, Minggu (7/6/2020).
Tidak hanya menawarkan keindahan tampilan, Taman Srigunting juga menghadirkan sederet sejarah. Dahulu, lokasi taman tersebut di era kolonial Belanda (VOC), digunakan sebagai lapangan parade militer atau paradeplein, yang merupakan tempat bagi para tentara VOC untuk berkegiatan, mulai dari berlatih baris-berbaris, upacara, maupun latihan militer.
Ditemui terpisah, penggiat sejarah Semarang, Rukardi Achmadi menuturkan, Kota Lama Semarang dahulu menjadi pusat perdagangan pada abad ke 19-20. Pada masa itu, orang-orang Eropa khususnya Belanda tinggal di wilayah tersebut. Untuk mengamankan warga dan wilayahnya, VOC , membangun benteng di sekitaran Kota Lama, yang dinamai Vijhoek.
“Kota Lama dahulu merupakan benteng pertahanan VOC. Bentuknya segi lima kecil, bukan seluas sekarang. Awalnya, sekitar tahun 1690-an Belanda memindahkan pusat pertahanan dari Jepara ke Semarang. Jadi dibangunlah benteng di dekat Jembatan Berok. Benteng VOC kala itu sering disebut benteng lima sudut,” terangnya.
Karena bertambahnya kebutuhan VOC saat itu, maka dilakukanlah perluasan untuk mengakomodir kegiatan di pantai utara dan timur Jawa yang beribukota di Semarang. Perluasan tersebut dilakukan di tahun 1715-an. Di dalam rancangan perluasan Benteng VOC tersebut, lapangan parade sudah ada.
Di dalam lapangan parade tersebut, juga terdapat fasilitas yang bisa digunakan masyarakat Belanda, seperti sumur artetis, tugu reklame, dan gazebo untuk bermain musik. “Dulu, saat digunakan kegiatan militer tentara VOC, Taman Srigunting cukup luas. Bahkan mencakup tanah, yang terletak tepat di sisi timur taman,” tambahnya.
Seusai kemerdekaan, Taman Srigunting, mulai dibangun sekitar tahun 1970-1980-an. Namun, kala itu taman belum bisa diakses untuk umum.“Awalnya taman itu merupakan taman statis, tidak bisa diakses masuk. Hanya sebagai paru-paru kota,” tambahnya.
Baru pada tahun 2004, mulai dibangun jalan setapak yang berada di empat penjuru taman. Hal itu dilakukan, agar masyarakat bisa menikmati keindahan taman yang menjadi salah satu ikon Kota Lama Semarang.
Mulai di tahun 2004, dibangunlah jalan setapak yang berada di empat penjuru taman. Hal tersebut dibangun agar masyarakat bisa menikmati berada di tengah taman Srigunting.
“Keberadaan Taman Srigunting di Kawasan Kota Lama, yang dahulunya merupkana lapangan parade militer era VOC, yang ini menjadi taman kota, saya nilai sudah sudah tepat. Kawasan Kota Lama memang membutuhkan taman kota atau landscape hijau, selain sebagai paru-paru kota juga agar tidak terlihat gersang, seperti era kolonial dahulu,” pungkasnya.