Selama Pandemi, Pengelola Objek Wisata di Jogja Benahi Fasilitas
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA — Sejumlah pengelola objek wisata di Yogyakarta memanfaatkan masa Tanggap Darurat Covid-19 sejak 3 bulan terakhir untuk melakukan pembenahan sejumlah fasilitas. Seperti dilakukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Sambirejo, selaku pengelola objek wisata Tebing Breksi, Prambanan, Sleman.
Sejak objek wisata Tebing Breksi ditutup bagi pengunjung sekitar bulan Maret 2020 lalu, pihak pengelola mengaku telah membangun sejumlah fasilitas baru yang lebih memadai. Mulai dari pembangunan talud, perluasan lahan parkir, pembangunan pendopo kesenian, hingga pembangunan mushola.
“Hikmahnya, selama Covid-19 ini kita bisa melakukan perbaikan fasilitas. Sehingga besok jika Tebing Breksi ini kembali sudah mulai dibuka, maka diharapkan pengunjung bisa lebih nyaman berwisata disini,” ungkap Ketua Pokdarwis Sambirejo Prambanan Sleman Mujimin, belum lama ini.
Mujimin mengatakan hingga saat ini objek wisata Tebing Breksi sendiri masih ditutup untuk wisatawan baik lokal maupun luar daerah. Pihak pengelola baru akan membuka kembali objek wisata Tebing Breksi jika sudah mendapatkan arahan resmi dari pihak terkait, dalam hal ini Dinas Pariwisata Kabupaten maupun Propinsi.
“Memang saat ini sebenarnya sudah banyak pengunjung atau wisatawan yang datang kesini. Baik itu wisatawan lokal maupun dari dari luar kota. Kebanyakan itu keluarga dalam jumlah kecil. Namun karena masih ditutup ya mau bagaimana lagi. Kita juga tidak bisa menerima,” katanya.
Menghadapi era normal baru, pihak pengelola objek wisata Tebing Breksi mengaku telah siap sepenuhnya untuk menerima wisatawan. Salah satu persiapkan yang dilakukan adalah menyiapkan sejumlah aturan baru bagi pengunjung atau wisatawan sesuai standar kesehatan yang ditetapkan.
Bersama pihak lainnya, Mujimin, mengaku telah menyiapkan SOP atau Standar Operasional Prosedur baru di Tebing Breksi. Baik itu bagi pengunjung, pengelola, balkondes, foodcord, hingga elemen pelaku wisata lainnya. SOP ini disesuaikan dengan aturan atau tata tertib pemerintah dalam hal ini gugus tugas Covid-19.
“Kita sudah menyiapkan APD, sarung tangan, masker, hingga sejumlah lokasi untuk mencuci tangan. Total saat ini ada 45 wastafel yang kita pasang di 17 titik. Rencananya nanti akan kita tambah 10 wastafel lagi. Sehingga total ada 55 tempat mencuci tangan,” ujarnya Rabu (17/06/2020).
Meski mengaku siap menghadapi New Normal, pihak pengelola menyatakan tidak akan gegabah untuk membuka kran lebar-lebar bagi wisatawan. Pembatasan tetap akan dilakukan demi meminimalisir resiko terjadinya penurunan. Seperti misalnya menutup fasilitas homestay yang ada di kawasan wisata bukit ini.
“Tentu kita harus tetap waspada. Agar ekonomi bisa terus berjalan namun juga tidak memberikan dampak buruk bagi kesehatan warga disini. Sehingga untuk sementara nanti kita tidak akan membuka homestay terlebih dahulu. Karena terlalu beresiko jika wisatawan tinggal atau menginap di lokasi,” ungkapnya.