Pengurusan KK dan KTP-El di Sikka Meningkat Drastis

Editor: Koko Triarko

MAUMERE –  Banyaknya bantuan sosial terkait pandemi Covid-19, memicu peningkatan jumlah pengurusan Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pengurusan KK melonjak drastis. Hingga akhir Desember 2019, jumlah KK di Kabupaten Sikka sebanyak 105.326 KK, namun hingga 28 Mei 2020 meningkat menjadi 110.127 KK.

“Dalam kurun waktu lima bulan ada penambahan jumlah KK yang cukup tinggi, sekitar 5.000 KK. Peningkatan terjadi sejak April 2020 lalu,” kata Martha Huberty Pega, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Sikka, Jumat (12/6/2020).

Martha, sapaannya, menambahkan dampak Covid-19 menyebabkan banyak bantuan, sehingga banyak masyarakat yang mengurus administrasi kependudukan, seperti pengurusan KTP-el dan KK.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Sikka, NTT, Martha Huberty Pega, saat ditemui di kantornya, Jumat (12/6/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Kalau tidak diberikan pelayanan, kasihan masyarakat karena pasti tidak mendapatkan bantuan. Syarat mendapatkan bantuan harus ada Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan KK, sehingga pihaknya tetap bekerja seperti biasa.

“Karena ada peluang untuk mendapatkan bantuan, banyak yang melakukan pemisahan KK dari KK induk orang tuanya. Namun ada yang belum ada sama sekali, sehingga mengurus baru,” terangnya.

Meski begitu, tandas Martha, pihaknya lebih selektif dalam memberikan pelayanan pembuatan KK dan harus memenuhi persyaratan.

Dia mengatakan, bila melihat animo masyarakat yang cukup tinggi mengurus administrasi kependudukan di satu sisi sangat positif.

Sejak awal pandemi Corona, kata mantan Kepala Badan Kepegawaian daerah (BKD) Sikka ini, kantornya sudah memberikan palayanan adminsitrasi kependudukan menggunakan protokol Covid-19.

“Selain pembatasan pelayanan, warga yang datang wajib memperhatikan protap Covid-19 sebelum mencuci tangan, pakai masker dan jaga jarak. Kami juga siapkan kursi di luar gedung, dan warga bertahap masuk ke dalam ruangan agar menghindari kerumunan,” jelasnya.

Dispenduk Sikka, tambah Martha, sejak merebaknya Corona membagi jadwal kerja setiap hari sesuai bidang dan jenis pelayanan.

Namun dalam perjalanan, jumlah yang datang membludak, sehingga semua karyawan harus masuk semua sejak pertengahan April.

Membludaknya warga, lanjutnya, membuat pintu pagar kantor Dispendukcapil jebol, karena semua masyarakat berebut masuk, sehingga pihakya mengganti pintu baru.

“Karena petugas di perekaman data bersentuhan langsung dengan warga, maka dilengkapi dengan pelindung wajah, masker dan sarung tangan. Kami siapkan tempat untuk mencuci tangan di beberapa tempat di depan kantor,” jelasnya.

Tersedianya blanko KTP-el setiap awal tahun, tutur Martha, membuat warga yang mengurus Surat Keterangan (Suket) sudah dibuatkan KTP-el semua.

Dispendukcapi Sikka tidak melayani pembuatan Suket, karena blanko KTP-el mencukupi. Pihaknya juga sudah mengantisipasi dengan membuat surat ke kementrian untuk meminta penambahan blanko lagi.

“Blanko tersedia banyak, sehingga kemarin yang sudah mengurus Suket kami langsung cetak KTP-el. Bahkan, pegawai kami mengantarnya ke desa, agar bisa dibagikan kepada masyarakat,” paparnya.

Sementara itu, Yuvensia Nurak, mengaku sedang mengantar anaknya mengurus KTP karena baru tamat SMA dan hendak melanjutkan kuliah, sehingga membutuhkan KTP-el.

Yuvensia mengaku meski antre, namun lebih teratur pengurusan adminsitrasi kependudukan dan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

“Pengurusannya jadi lebih tertib, karena semua harus antre dan duduk sesuai urutan kedatangan dan tidak ada saling berebut. Apalagi, sekarang pagar kantor tidak dibuka seluruhnya, sehingga yang masuk dibatasi,” ungkapnya.

Lihat juga...