Penerapan PSBB Transisi, Lalu Lintas di Jakarta Barat Meningkat 80 Persen

Petugas kepolisian menghentikan kendaraandi perbatasan Tangerang-Jakarta di Jalan Daan Mogot, Jakarta, Jumat (10/4/2020) – Foto Ant

JAKARTA – Arus lalu lintas di jalan protokol di Jakarta Barat meningkat 80 persen, pada hari pertama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, Senin (8/6/2020). Peningkatan kepadatan lalu lintas tertinggi terjadi di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat.

Di kawasan tersebut sempat terjadi antrean kendaraan sepanjang satu kilometer, tepatnya di kawasan sebelum Jembatan Layang Pesing. “Tadi kami lakukan penghitungan trafik. Ada kenaikan kira-kira 80 persen dibanding pekan sebelumnya,” kata Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat, Erwansyah, Senin (8/6/2020).

Antrean terjadi pada waktu masyarakat hendak berangkat kerja. “Setelah dilakukan penghitungan, khusus Jalan Daan Mogot sempat alami kenaikan jumlah kendaraan sekitar 40 persen, khususnya di ruas Tangerang-Jakarta,” kata Erwansyah.

Sedangkan ruas Jalan Jakarta-Tangerang mengalami kenaikan 20 persen pada Senin (8/6/2020) pagi. Erwansyah mengatakan, pihaknya menerjunkan personel untuk mengatur lalu lintas di kawasan tersebut. Namun pengerahan personel, belum seperti jumlah biasanya karena sebagian dari mereka masih dikerahkan di lima titik pos pemeriksaan di Jakarta Barat.

Selain di Jalan Daan Mogot, personel Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat juga berjaga di Pos Polisi Lantas Kalideres, Jalan Benda Kamal Perbatasan Tangerang dan Jalan Joglo Alfa Indah.

Sementara itu, sejumlah pengemudi ojek daring di wilayah Jakarta Selatan, mengaku masih sepi penumpang pada hari pertama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, Senin (8/6/2020). Pengemudi ojek daring di wilayah Stasiun Kalibata di Jakarta, Dedi (45) mengatakan, kondisi belum sepenuhnya normal. Hingga pukul 11.00 WIB dirinya belum mendapatkan satu orang penumpang pun. “Belum stabil betul hari ini, masih susah dapat penumpang,” kata Dedi.

Tapi Dedi mengaku senang bisa kembali menarik penumpang, setelah hampir dua bulan lamanya tidak bisa mengantar dan jemput penumpang. Menurut dia, selama dilarang membawa penumpang, Dedi hanya mengandalkan layanan pesanan makanan yang nominalnya tidak sebanyak saat bisa menarik penumpang. “Kalau dulu, Rp100 ribu sampai Rp50 ribu sehari bisa dapat. Tapi sekarang, susah,” kata Dedi.

Meski telah beroperasi, sejumlah pengendara ojek daring juga dibuat sulit karena banyak wilayah-wilayah yang melakukan karantina (lockdown) lokal. Kondisi tersebut membuat akses pengemudi ojek daring kesulitan untuk mengantar jemput penumpang karena harus memutar jauh. “Banyak jalan-jalan perumahan yang ditutup gerbangnya, kita jadi muternya jauh, padahal di peta enggak sejauh itu,” kata pengemudi ojek daring lainnya, Hendra.

Selama beroperasi, pengemudi ojek daring diwajibkan untuk menerapkan protokol kesehatan, di antaranya wajib menyediakan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dan wajib memakai masker, sarung tangan, pakaian mulai dari jaket, helm harus bersih dan bersesuaian dengan atribut perusahaan aplikasi tersebut.

Begitu juga penumpang ojek daring, diwajibkan mengenakan masker dan membawa helm sendiri. “Protokol kesehatan pasti kita terapkan, saya sediakan hand sanitizer. kalau penumpang tidak punya masker,  juga kita siapkan, termasuk helm. Kecuali penumpang bawa sendiri, ini cuma buat jaga-jaga supaya kita tetap aman berkendara,” kata pengemudi ojek daring lainnya, Toto. (Ant)

Lihat juga...