Masa Pandemi Sistem Tumpangsari Efektif Diterapkan Petani
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
YOGYAKARTA – Anjloknya harga cabai di berbagai daerah hingga mencapai Rp 3000-5000 per kilogram (di tingkat petani) menjadi pukulan telak bagi para petani cabai di tengah masa pandemi seperti saat ini.
Bagaimana tidak, selain merugi, mereka juga kesulitan mencari modal untuk memulai proses tanam berikutnya.
Beruntung, tak semua petani mengalami hal serupa. Sejumlah petani yang menerapkan sistem/pola tanam tumpangsari, mengaku tak terlalu merugi meski harga jual cabai anjlok seperti saat ini. Pasalnya dengan sistem tersebut, mereka masih bisa mendapatkan untung dari komoditas lainnya.
Seperti diungkapkan salah seorang petani, Sarjiman asal Lendah Kulon Progo. Lelaki 35 tahun ini menerapkan sistem tumpangsari dua komoditas yakni cabai rawit dan melon. Ditanam dalam satu lahan, petani bisa mendapatkan hasil panen dua komoditas sekaligus di rentang waktu yang berbeda.
“Kita menerapkan sistem tumpangsari karena lebih efektif dan menguntungkan. Selain bisa mendapatkan hasil panen melon di tiga bulan pertama, kita juga bisa menanen cabai di bulan keempat dan seterusnya,” ungkapnya kepada Cendana News, Senin (8/6/2020).
Sarjiman sendiri mengakui anjloknya harga jual cabai sejak beberapa waktu terakhir mencapai Rp3 ribu-Rp5 ribu per kilogram. Harga jual itu meliputi semua jenis cabai baik rawit ataupun keriting. Menurutnya penurunan harga cabai terjadi semenjak pandemi Covid-19, dimana kebutuhan pasar menurun drastis sementara stok melimpah.
“Ya semenjak Corona kan banyak warung makan restoran tutup. Jadi stok di pasaran melimpah. Makanya harga anjlok. Untuk petani yang hanya fokus menanam cabai jelas merugi. Tapi yang tumpangsari seperti kita tidak terlalu,” ungkapnya.
Menurut Sarjiman, petani dengan sistem tumpang sari lebih diuntungkan karena bisa menekan kebutuhan pupuk, pestisida maupun tenaga. Mereka hanya membutuhkan modal untuk membeli bibit cabai serta pupuk tambahan saat melon telah selesai dipanen.
“Jadi saat harga cabai anjlok seperti sekarang ini, kerugiannya masih bisa ditutup dari keuntungan penjualan panenan melon,” ungkapnya.
Meski begitu, Sarjiman tetap berharap agar ke depan harga cabai di pasaran dapat kembali merangkak naik. Ia memprediksi kenaikan harga cabai akan berlangsung pada sekitar bulan Oktober November dimana masa new normal mulai berjalan dan mendekati masa libur akhir tahun.
“Ya mudah-mudahan tidak ada kebijakan pembatasan atau lockdown lagi dari pemerintah. Sehingga situasi bisa berjalan normal kembali, dan harga jual cabai bisa pulih seperti sebelum-sebelumnya,” pungkasnya.