Klaster Ijtima Gowa, Momok Penyebaran Covid-19 di Jateng

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Klaster Itjima Gowa menjadi momok, pusat penyebaran baru kasus Covid-19 di Jateng. Dengan jumlah kasus mencapai 185 orang, klaster tersebut menyebar di 30 kabupaten/kota di Jateng, dengan hanya lima daerah yang bebas karena warganya tidak ada yang menjadi peserta di acara tersebut.

“Kasus penularan Covid-19 dari peserta Itjima Gowa ini luar biasa. Bahkan, kemarin saya baru dari Desa Krincing Kabupaten Magelang, di sana dalam satu RT saja jumlah penularannya ada yang mencapai 27 orang,” papar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, disela kegiatan gowes keliling di Semarang, Kamis (11/6/2020).

Melihat kondisi tersebut, pihaknya kembali mengajak agar para alumni peserta Itjima Gowa, untuk secara sukarela melaporkan diri ke dinas kesehatan setempat.  “Di Desa Krincing Magelang itu dari kluster Gowa. Tinggi sekali. Maka kita cari dan berkali-kali saya meminta, kawan-kawan alumni peserta Gowa, melaporlah, agar kita bisa melakukan penelusuran dengan baik,” tandasnya.

Ganjar juga menegaskan, pihaknya juga memerintahkan pelaksanaan tes massal dengan mengirim rapid kit , ke seluruh kabupaten/kota di Jateng. Hal tersebut sebagai upaya pemetaan penyebaran Covid-19, sekaligus penelusuran penularan semua kluster yang belum secara tuntas dilakukan.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jateng dr Yulianto Prabowo menuturkan, dari 35 kabupaten/kota di Jateng, hanya Kabupaten Rembang, Blora, Demak, Kota Salatiga, dan Kota Tegal, yang tidak ada kasus covid-19 dari klaster Itjima Gowa.

“Kasus Klaster Ijima Gowa memang menjadi perhatian khusus Pemprov Jateng. Untuk itu, kita dengan serius melakukan tracing kepada para peserta, hingga melakukan rapid test secara massal, untuk memetakan, mencari dan memutus rantai penularan Covid-19,” tandasnya.

Yulianto menandaskan, pihaknya menargetkan sebanyak 120 ribu rapid test digelar di Jateng, hingga Juli 2020 mendatang. Sementara, pelaksanaan tes massal tersebut berdasarkan populasi dan tidak secara acak.

“Kita memakai pola dalam suatu populasi. Seberapa besar jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan yang kontak erat dengan pasien positif corona. Selain itu juga di lokasi yang mempunyai faktor risiko tinggi. Tes pertama dengan rapid test. Jika ada yang reaktif, baru kita lakukan pemeriksaan swab,”paparnya.

Ditambahkan, Jateng sudah memiliki enam laboratorium pengecekan hasil swab, yakni Laboratorium Litbang Vektor Salatiga, RSUP Kariadi Semarang, RSUD Moewardi Solo, RSND Undip Semarang, RSUD Wongsonegoro Semarang dan RS UNS Solo.

“Saat ini, rata-rata laboratorium tersebut melakukan pemeriksaan sebanyak 900-1.000 sampel swab setiap hari,” pungkas Yulianto.

Lihat juga...