Dampak Covid-19, Ritual Adat di Sikka Terpaksa Dilaksanakan Sederhana
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
MAUMERE — Merebaknya pandemi Corona membuat berbagai ritual adat yang selama ini dilaksanakan secara besar-besaran dan melibatkan banyak orang dilakukan sederhana dan hanya dihadiri anggota keluarga.

Hal ini berlaku di Desa Nebe Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur seperti ritual adat, makan jagung muda, makan padi baru, serta syukuran panen dan Pati Ea.
“Biasanya kalau panen pasti ramai sekali dan dihadiri banyak orang, karena harus memanen padi, menginjak padi dan memasukannya ke dalam lumbung,” sebut Albinus Lase, tetua adat etnis Tana Ai Desa Nebe Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka, NTT, Minggu (14/6/2020).
Binus sapannya menjelaskan, pesta syukuran panen terlebih Pati Ea biasa mengundang banyak orang dari satu desa bahkan kecamatan termasuk juga rumpun suku lainnya yang tersebar di berbagai kecamatan.
Namun dengan merebaknya pandemi Corona, kata dia, berbagai ritual adat pun dilaksanakan secara sederhana dan hanya dihadiri oleh anggota keluarga inti dan tetangga sekitar rumah yang mempunyai hajat saja.
“Pesta syukur panen biasanya diakhiri dengan menari dan berpantun bersama, bahkan hingga subuh. Tentunya melibatkan banyak orang tetapi adanya wabah Covid-19 maka digelar secara sederhana saja,” tuturnya.
Selain itu tambah Binus, dampak Corona membuat masyarakat juga banyak yang kehilangan pendapatan sehingga sulit untuk menggelar sebuah ritual adat secara besar-besaran dan melibatkan banyak orang.
Pihaknya pun tidak berani melaksanakan secara besar-besaran karena mengikuti imbauan pemerintah agar tidak membuat acara yang mengumpulkan banyak orang di sebuah wilayah.
“Kegiatan keagamaan di tempat ibadah saja tidak dilaksanakan sehingga kami pun patuh dan menggelar ritual adat dengan hanya dihadiri beberapa orang. Kita juga tetap memakai masker dan menjaga jarak,” ungkapnya.
Sementara itu, Wilhelmus Wolor tetua adat Tana Ai lainnya menambahkan, untuk menggelar ritual adat secara besar-besaran seperti pati Ea maka wajib menyembelih babi berukuran besar dan pasti dihadiri banyak orang.
Wolor katakan, saat ini hanya menggunakan telur ayam serta menyembelih ayam guna memberi makan atau sesajen kepada leluhur dan penguasa langit dan bumi serta makluk halus penjaga kampung.
“Yang penting sesajen kepada mereka harus diberikan karena sebagai penghormatan dan ucapan terima kasih karena telah melindungi kita manusia dan memberikan keberhasilan hasil panen,” ujarnya.
Menurut Wolor, meskipun dilaksanakan secara sederhana namun tetap dilaksanakan. Hal ini sebutnya sama dengan menggelar ritual tolak bala dengan membuat ritual adat dan menutup kampung saat awal wabah Corona merebak.
Sebagai komunitas adat yang tetap berpegang teguh kepada adat dan budaya lanjutnya, maka menggelar ritual adat merupakan sebuah kewajiban seluruh anggota komunitas adat.
“Ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan serta ucapan terima kasih kepada leluhur dan sang pencipta, penguasa langit dan bumi,” terangnya.