Cegah Stigma Korban Covid-19 dengan Teknologi Sosial
JAKARTA — Di tengah pandemi Covid-19, masyarakat perlu menghindari stigmatisasi terhadap korban Covid-19 yang seolah-olah ia bahkan keluarganya dinilai sangat negatif. Untuk mencegah atau mengubah pandangan negatif tersebut dapat dilakukan dengan teknologi sosial.
Pengamat sosiologi, Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc, menyebutkan stigma adalah konsep yang berkembang awal dari Psikologi, merupakan penilaian negatif dilekatkan pada diri seseorang individu karena sikap dan perilakunya pribadi atau pun karena sebab yang lain, keturunan atau lingkungan.
Stigma sosial yang kemudian dikembangkan dalam Sosiologi bermata dua. Satu sisi menjelaskan tentang penilaian negatif dari kelompok atau komunitas dilekatkan kepada seseorang individu, dan di sisi yang lain menjelaskan tentang penilaian negatif dari seseorang individu, kelompok atau komunitas kepada kelompok atau komunitas yang lain.
“Yang terakhir ini di Sosiologi populer dikenal sebagai streotip (streotype). Latar dari penilaian kemudian berkembang menjadi pandangan sosial budaya yang sulit terhapus secara turun temurun,” jelas Bustami Rahman melalui keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Kamis (11/6/2020) malam.
Terkait dengan stigmatisasi terhadap korban Covid-19, Bustami menegaskan seraya mempertanyakan, bukankah penilaian negatif hanya dilekatkan pada sikap dan perilaku, meskipun terkait dengan keturunan dan lingkungan?
Bukankah korban dan keluarganya tidak berdosa atau bersalah sedikit pun, apalagi terkait berbuat salah kepada kelompok, masyarakat atau lingkungannya? Bukankah korban yang sakit atau yang meninggal itu adalah orang baik-baik, keturunan orang baik-baik?
Dan uniknya, lanjut Bustami, bukankah kita juga sangat mungkin menjadi korban Covid-19, tapi mengapa kita merasa takut dan seakan ‘jijik’ terhadap korban Covid-19?
Untuk itu, Bustami yang juga Ketua Lembaga Adat Melayu Negeri Serumpun Sebalai (LAM NSS), Provinsi Bangka Belitung ini, menekankan agar kita jernih dalam melihat korban Covid-19 dengan cara mengubah pandangan ini mengikuti metode teknologi sosial. Pertama, kita harus punya kesadaran bahwa penyakit apa saja (any desease) bisa hinggap pada siapa saja (any body).
Kedua, kita harus memahami bahwa Covid-19 bukan berasal dari perbuatan buruk atau hina. Penyakit menular ini datang secara tiba-tiba dan bisa menjangkiti siapa saja (bangsa, agama, status sosial), di mana saja (pandemi global) dan kapan saja (kegiatan pagi, siang atau malam).
Ketiga, kita harus memahami bahwa sikap para petugas kesehatan yang tampak seperti berlebihan itu adalah karena mereka mengalami secara langsung apa yang terjadi pada pasien-pasien Covid-19. Mereka bertatapan langsung dengan korban yang sedang sakratul maut, bergulat untuk membantu sekuat kemampuan yang ada dan akhirnya sebagian pasien meninggal tanpa mereka berdaya karena memang belum ada obat yang pasti.
Keempat, kita harus menyadari bahwa korban yang meninggal diberlakukan dengan standar yang ketat, pengantaran jenazah ke pemakaman dengan kawalan ekstra hanya karena untuk menghindari penularan. Demikian juga penjemputan pasien yang berstatus ODP, PDP, dan seterusnya itu berdasarkan standar yang ketat. Kita harus menyadari itu semua demi mengantisipasi penularan kepada kita semuanya.
Kelima, kita harus menyadari bahwa korban yang meninggal adalah pahlawan bagi kita semua. Mereka bagaikan ‘pagar betis’ bagi kita semua yang belum terkena Covid-19.
“Cobalah bayangkan mereka tumbang satu persatu ketika virus itu semakin mendekati kita. Pasukan virus itu menerpa mereka terlebih dahulu. Masuk ke tubuh mereka dan musnahlah virus itu terkubur bersama para pahlawan itu. Pahlawan itu mati tidak sia-sia. Hakikatnya mereka tewas karena bertahan di garis depan. Mereka betul-betul pahlawan bagi kita yang masih hidup ini,” tutur Bustami yang juga ketua Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung ini.
Selanjutnya, keenam, kita harus yakin bahwa serangan virus ini akan segera berakhir, karena alam akan senantiasa bergerak dalam siklus equibriumnya.
“Teori Sosiologi mazhab positivisme mengajari kita akan siklus biologis naturalistis bahwa sistem alam dan sistem sosial budaya akan selalu bergerak dalam mekanisme menuju keseimbangannya sendiri. Abnormalitas hanyalah mekanisme sesaat untuk menginjeksi tubuh alam itu agar tercapai imunitas baru yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya,” tandas mantan rektor pertama Universitas Bangka Belitung (UBB) ini.
Menurut Bustami, untuk memandang para korban sebagai pahlawan kesehatan, pihaknya merekomendasikan pemakaman mereka diatur di suatu lokasi yang terhormat, tuliskan ‘Makam Pahlawan Kesehatan’ di gerbang makam.
Setiap peti jenazah, usulnya, ditutupi bendera Merah Putih. Beri penghormatan yang tinggi kepada setiap korban sebelum dimakamkan. Jika beliau itu seorang petugas atau pegawai suatu instansi, naikkan pangkatnya satu tingkat.
“Itulah contoh teknologi sosial. Jika hal itu bisa dilakukan, maka stigma yang melekat pada korban Covid-19 bisa dihilangkan di dalam masyarakat, dan kehidupan masyarakat dapat dipulihkan secara berkeadaban,” pungkas guru besar yang sebelum pindah tugas ke UBB sempat mengabdi sebagai dosen di FISIP Universitas Jember, Jawa Timur. (Hid)