Warga Batursari Semarang Adopsi Program ‘Jogo Tonggo’
Editor: Makmun Hidayat
SEMARANG — Gerakan Jogo Tonggo dalam menghadapi pandemi Covid-19, terus digalakkan di berbagai wilayah. Tak terkecuali di RT 10 RW 15 Batursari, masyarakat bergotong royong membuat dapur umum, untuk membantu warga tidak mampu atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ketua RT 10 RW 15 Batursari, Hartiani Nurjoko menuturkan jumlah warganya sekitar 350-400 orang, dari jumlah tersebut sekitar 150 orang yang memiliki pekerjaan informal seperti tukang ojek online, pedagang keliling, hingga buruh pabrik yang terkena PHK akibat Covid-19.
“Masyarakat lalu berinisiatif, sesuai dengan anjuran pemerintah, berupaya agar menjaga warga tidak kelaparan, jogo tonggo, menjaga tetangga. Jadi kami membantu dengan mendirikan dapur umum ini, serta pembagian sembako gratis,” tuturnya.
Setiap hari, warga memasak beragam menu makanan, setelah selesai kemudian dibungkus dan diletakkan di depan rumah salah satu warga. Dalam waktu kurang lebih 1 jam, beragam makanan tersebut habis terbagi. “Selain nasi bungkus, juga ada beragam sembako dan sayuran mentah yang kita masukkan. Harapannya mereka yang membutuhkan, juga bisa memasak sendiri di rumah,” terangnya.

Hartiani menandaskan, siapa saja boleh mengambil. Tidak harus warga di wilayahnya. Mereka yang melintas pun bisa mengambilnya. Di satu sisi, siapa saja juga boleh ikut berpartisipasi. “Untuk membeli bahan baku makanan, warga bergotong royong mengambil iuran jimpitan. Adapula, mereka yang memiliki kemampuan lebih menyumbang uang, beras, minyak goreng atau kebutuhan lainnya,” tambahnya.
Dari hasil jimpitan dan sumbangan warga, ditampung dalam satu tempat kemudian digunakan untuk memasak. Setiap hari, ada sekitar 100 -150 porsi makanan atau sembako yang tersedia. Warga pun bebas mengambil, tanpa dipungut biaya.
“Konsepnya swadaya dari warga, untuk membentuk ketahanan pangan. Jadi ketika ada bantuan pemerintah maupun perorangan disalurkan di satu tempat. Kemudian disalurkan kepada warga yang membutuhkan,” imbuhnya.
Hartiani berharap dengan adanya dapur umum itu, bisa sedikit meringankan beban mereka yang terimbas Covid-19. “Harapannya, semangat dari jogo tonggo ini mampu mempererat rasa persaudaraan, saling tolong menolong, jangan sampai ada tetangga kita yang kelaparan,” tegasnya.
Diterangkan, program yang sudah dimulai sejak 14 Mei 2020 lalu tersebut, akan terus berlangsung hingga nanti selesai Lebaran. “Mudah-mudahan, program ini bisa terus berjalan. Di satu sisi, kita juga berharap corona cepat berlalu, sehingga kehidupan kita juga bisa kembali seperti semula,” imbuhnya.
Salah seorang warga, Muhajirin, mengaku sangat terbantu dengan adanya program jogo tonggo di RT 10 RW 15 Batursari tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan solusi dari kesulitan ekonomi yang ia rasakan semenjak dirumahkan.
“Sudah lebih dari dua minggu saya tidak bekerja, karena dirumahkan. Pabrik tempat saya bekerja juga tengah terpuruk karena sepi order, akibat pandemi,” terangnya.
Pihaknya pun berharap, program tersebut bisa membantu meringankan kesulitan ekonomi yang dialaminya.