Positif COVID-19 di Purbalingga Capai 40 Orang
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PURBALINGGA – Kasus positif Covid-19 di Kabupaten Purbalingga hingga Minggu (10/5/2020) sudah mencapai 40 orang. Terakhir ada penambahan 4 orang dinyatakan positif, setelah hasil swabnya keluar.
Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, mengatakan, kasus positif Covid-19 di Purbalingga didominasi oleh klaster Gowa. Dari total 40 kasus positif, sebanyak 27 orang berasal dari klaster Gowa.
“Klaster Gowa masih mendominasi, ada sebanyak 27 pasien positif dari klaster tersebut, baik dari peserta ijtima ulama maupun dari keluarga yang tertular,” kata Bupati, Minggu (10/5/2020).
Dan untuk penambahan 4 pasien positif, dua di antaranya juga berasal dari klaster Gowa, yaitu laki-laki usia 38 tahun warga Kecamatan Padamara dan laki-laki usia 33 tahun, warga Kecamatan Kutasari.
Dua lainnya dari klaster individu, yaitu perempuan usia 38 tahun, warga Kecamatan Bukateja, serta satu Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang sudah meninggal dunia dan hasil swab positif baru keluar hari ini.
“Untuk PDP individu yang perempuan, warga Kecamatan Bukateja ini tidak mempunyai riwayat perjalanan keluar kota, hanya saja ia melakukan kontak dengan salah satu saudaranya yang baru pulang dari Semarang,” terangnya.
Sementara satu PDP positif yang sudah meninggal dunia, merupakan warga Kecamatan Kalimanah, laki-laki usia 50 tahun. Pasien meninggal dunia pada bulan April, namun hasil swab baru keluar dan dinyatakan positif. Pasien tersebut menjadi kasus positif Covid-19 pertama di Purbalingga yang meninggal dunia.
Dengan adanya penambahan 4 kasus positif tersebut, maka sampai dengan hari ini total kasus positif Covid-19 di Purbalingga ada 40 orang. Dengan perincian 32 orang masih menjalani perawatan, 7 orang sembuh dan 1 orang meninggal dunia.
“Untuk PDP yang masih menjalani perawatan ada 47 orang, mereka masih menunggu hasil swab keluar. Dan PDP yang meninggal dunia ada 13 orang,” jelas Bupati.
Sementara itu, terus bertambahnya pasien positif Covid-19 ini membuat warga Purbalingga resah. Sebab, menurut mereka sekarang penanganan antisipasi pencegahan sudah tidak sesering sebelumnya, padahal jumlah positif meningkat.
Salah satu warga Purbalingga, Wahyu mengatakan, penyemprotan disinfektan sudah tidak ada lagi. Padahal sebelumnya, bupati kerap melakukan penyemprotan di jalan-jalan protokol ataupun di pusat keramaian. Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan longgarnya aturan bagi perantau yang baru pulang.
“Perantau yang pulang, hanya dilakukan cek kesehatan di puskesmas, kemudian disuruh mandi dan setelah itu diperbolehkan pulang ke desanya masing-masing. Ini kan membahayakan keluarganya dan warga desa sekitarnya,” keluhnya.