Permainan Tradisional Gasing Kayu Lestari di Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Permainan gasing kayu atau dikenal pathu tetap dilestarikan oleh anak-anak di wilayah Lampung Selatan (Lamsel).

Ronal, salah satu anak di Desa Penengahan, Kecamatan Penengahan menyebut permainan gasing masih jadi pilihan anak-anak di pedesaan. Gasing disebutnya jadi alternatif meski permainan (game) modern mulai banyak dipilih dari gawai android.

Ronal, salah satu anak yang memainkan atraksi memutar gasing kayu di tangan, permainan gasing banyak diminati selama libur dan Ramadan, Minggu (10/5/2020) – Foto: Henk Widi

Oleh anak-anak di wilayah tersebut permainan gasing juga dikenal dengan begasingan atau pathon. Kebosanan anak-anak selama masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) saat belajar dari rumah membuat gasing kembali dimainkan.

Berbagai jenis permainan diakuinya menyesuaikan musim. Sebelumnya anak-anak bermain layang-layang dan beralih memainkan gasing.

Musim gasing kerap didukung oleh orangtua yang membuatkan mainan tersebut dari berbagai jenis kayu keras. Permainan gasing disebutnya meski tradisional namun menciptakan kebersamaan, rasa sosial dan kreativitas. Gasing kayu berbentuk oval atau lonjong akan diberi pasak dan leher sebagai tempat mengikat tali untuk menghasilkan putaran.

“Orangtua akan mengajarkan anaknya membuat gasing lalu akan ditularkan ilmu cara pembuatan gasing dari proses awal hingga tata cara permainan dengan berbagai variasi agar lebih menyenangkan,” terang Ronal saat ditemui Cendana News, Minggu (10/5/2020).

Permainan gasing kayu menurut Ronal mengandalkan tali tambang kapal. Sebab sebagian orangtua yang merupakan nelayan mudah mendapatkan bahan tali tersebut.

Berbagai ukuran gasing dari yang kecil hingga besar akan dimainkan dengan cara yang sama. Sistem permainan gasing menurut Ronal dibagi dalam tiga jenis sesuai kesepakatan anak-anak.

Sistem permainan atau aturan yang dimainkan meliputi Ngerepet, Umbar dan Terak. Aturan bermain gasing ngerepet dilakukan dengan memutar gasing hanya untuk atraksi.

Atraksi yang dilakukan berupa memutar gasing pada bagian tangan, kaki atau bidang datar. Aturan bermain gasing umbar dilakukan dengan putaran gasing terlama dan aturan terak untuk adu kekuatan gasing dengan proses saling melempar.

“Aturan-aturan permainan kerap diciptakan oleh anak-anak dan bahkan gasing dikreasikan dengan lampu menyala agar menarik saat malam hari,” cetusnya.

Permainan gasing tak lepas dari tali yang dikenal dengan uwer. Selain tali kapal anak-anak menurut Ronal kerap memakai tali rafia. Permainan terak atau menumbukkan gasing satu sama lain rata-rata oleh lima anak kerap diminati.

Sebab permainan terak akan memperlihatkan kekuatan gasing kayu yang dimiliki. Gasing lawan yang patah atau hancur saat terak akan dianggap kalah.

Permainan gasing menurutnya jadi pengisi waktu anak-anak selama masa belajar di rumah. Memasuki bulan Ramadan, gasing juga kerap dijadikan pilihan. Selain gasing dimainkan dengan berbagai aturan, anak-anak kerap membuat gasing hanya sebagai hiasan.

Sebab kreativitas pembuatan gasing memberi kesempatan untuk menciptakan gasing berbagai ukuran yang unik.

“Permainan gasing selalu turun temurun karena orangtua kami juga saat kecil kerap memainkannya,” cetus Ronal.

Ramli, salah satu orangtua anak-anak di Dusun Perkumpulan Keluarga Sulawesi atau dikenal PKS menyebut gasing kayu tak lekang oleh waktu. Meski permainan tersebut jarang dimainkan namun bagi anak-anak di desa tersebut tetap dilestarikan.

Ia kerap memenuhi permintaan anak-anak yang ingin dibuatkan gasing. Jenis kayu maja, sentigi, sawo dan jambu jadi pilihan.

Seperti mengenang masa kecil, Ramli membuatkan gasing berbagai ukuran bagi anak-anak. Sebagian anak yang tidak bisa membuat kerap memintanya membuat gasing. Membawa bahan kayu yang dipilih, anak-anak akan memberinya upah mulai Rp10.000 hingga Rp20.000 seikhlasnya. Ia juga senang masih bisa melestarikan permainan tradisional tersebut.

Proses penghalusan gasing kayu berbahan kayu maja dilakukan oleh Ramli menggunakan ampelas, warga Desa Penengahan Lampung Selatan tersebut setia membuat mainan tradisional bagi cucu dan anak-anak di desanya, Minggu (10/5/2020) – Foto: Henk Widi

“Anak-anak sekarang dominan bermain game online sehingga kebersamaan kurang, jadi adanya gasing sangat saya dukung,” tegasnya.

Bermain gasing kayu menurutnya menjadi cara untuk menghidupkan kembali permainan yang hampir punah. Sebagai salah satu permainan gasing juga memiliki bentuk seni yang unik dan menjadi budaya permainan masa silam. Bentuk gasing kayu yang unik menurutnya dimainkan dengan berbagai aturan.

Menghidupkan kembali permainan gasing disebut Ramli sekaligus memiliki filosofi kebersamaan. Sebab pada zaman modern permainan kerap individualistis.

Memanfaatkan bahan yang ada di sekitar berbiaya murah, pembuatan gasing kerap menimbulkan rasa solidaritas. Anak yang belum bisa bermain akan diajari sehingga semua bisa memainkan gasing untuk pengisi waktu liburan.

Lihat juga...