Miftahul Huda Tetap Jalankan Program Khatam Quran Selama Ramadan
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) tidak menghalangi para santri melakukan kegiatan belajar. Meski tidak melakukan belajar formal seperti hari biasa, program belajar keagamaan tetap dijalankan.
Ustadz Mumu Mutaqin, kepala Pesantren Miftahul Huda 1041 menyebutkan, pihaknya belum meliburkan puluhan santri dari sejumlah kecamatan di Lampung Selatan (Lamsel). Sejumlah program belajar selama ramadan tetap dijalankan meliputi program khatam Quran. Program itu dikonsep dalam one day one juz atau dalam sehari santri diwajibkan menyelesaikan membaca satu juz Alquran.
“Selain program khatam Quran para santri juga selama ramadan diajar dengan materi akidah Islamiah, praktek shalat bagi santri usia SD, pengenalan Tauhid dan mempelajari Kitab Kuning agar bisa memanfaatkan waktu dengan baik,” terang ustad Mumu Mutaqin saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (7/5/2020).
Ustad Mumu Mutaqin menyebut pendidikan santri selama bulan Ramadan hanya berlangsung hingga Kamis (7/5). Pada masa pandemi Covid-19 puluhan santri yang tinggal di sekitar pesantren memutuskan kembali ke rumah masing masing. Sementara bagi santri yang tinggal di luar kecamatan Penengahan akan dijemput keluarganya pada Jumat (8/5).
Meski santri diliburkan dan kembali ke sejumlah rumah orangtua program khatam Quran dan pelajaran lain tetap dilanjutkan. Sebab kepala pesantren dan sejumlah guru pengajar akan melakukan tes kepada santri melalui sistem online menggunakan aplikasi WhatsApp.
“Kami tetap pantau kegiatan belajar santri yang merupakan siswa kami sebagai bentuk tanggungjawab pendidikan,” beber ustas Mumu Mutaqin.
Pesantren Miftahul Huda menurutnya tetap menjalankan protokol kesehatan. Di antaranya memakai masker, rajin mencuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan, membawa sajadah saat akan ibadah di mushola, menghindari kontak fisik langsung dengan orang lain.
“Hari terakhir santri ada di pesantren pengukuran suhu tubuh dilakukan agar saat sampai di rumah dalam kondisi sehat,” cetusnya.
Sugeng Hariyono, relawan pustaka Bergerak menyebut telah melakukan pemindaian suhu tubuh bagi santri dan para guru pesantren Miftahul Huda. Dalam program sepuluh rumah aman ia menyebut lembaga pendidikan pesantren di Desa Pasuruan juga menjadi perhatian.
“Meski akan pulang protokol kesehatan tetap harus dijalankan, santri tetap bisa melanjutkan belajar di rumah sesuai aturan pesantren,” bebernya.
Selain kepada para santri, didampingi Sumali, Kepala Desa Pasuruan, relawan Pustaka Bergerak rutin mengecek suhu tubuh warga. Sebagian warga yang baru pulang dari luar daerah di antaranya mahasiswa yang berlibur harus menjalani protokol kesehatan.