Mengais Rezeki Lewat Jasa Penukaran Uang Baru

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Pandemi Covid-19, tidak menyurutkan langkah Rubiyanti, menawarkan jasa penukaran uang baru. Sambil berdiri di pinggir jalan Pahlawan Semarang, wanita 56 tahun tersebut, tetap semangat menunggu calon konsumen.

Sesekali tangannya melambaikan lembaran uang baru yang sudah dikemas rapi, ke arah pengguna jalan. Berharap, mereka tertarik untuk mampir dan menukarkan uang.

“Tahun ini sepi, baru ramai tiga hari terakhir ini. Kalau kemarin-kemarin, paling hanya 2-3 yang menukarkan uang baru. Alhamdulillah, sejak dua hari lalu, sudah ramai. Ada sekitar 30an orang yang menukar uang baru,” paparnya, saat ditemui di lapak penukaran uang miliknya, di pinggir jalan Pahlawan Semarang, Kamis (21/5/2020).

Warga Bugangan Semarang tersebut, mengaku sudah puluhan tahun menggeluti jasa penukaran uang. Uang-uang tersebut, juga bukan miliknya, namun ada pemodal yang menawarkan.

“Bukan uang saya, saya hanya menjalankan usaha. Lumayan buat beli beras sama kue lebaran,” terangnya.

Meski terlihat mudah, hanya bermodalkan sabar menunggu calon konsumen, namun perjuangan untuk menggeluti jasa penukaran uang baru, ternyata tidak mudah. Diawali dengan mengantre dahulu di bank, untuk menukarkan uang baru.

“Sekarang susah, apalagi kalau pihak bank hafal. Sekarang bisa tukar uang baru, besok ke sana lagi tidak boleh. Bilangnya, ‘lho bu kemarin kan sudah tukar uang baru’. Kalau begitu saya pindah ke bank lainnya,” jelasnya.

Belum lagi, jika harus mengantre cukup lama di bank. Jika ramai, antrean penukaran uang bisa lebih dari satu jam.

“Antrenya di bank lama. Padahal dari jasa penukaran uang ini, untungnya tidak seberapa. Saya ambil keuntungan paling 5-7 persen, kalau ada konsumen yang baik ya dapat 10 persen. Misalnya mereka tukar uang baru Rp100 ribu, nanti konsumen bayar ke saya Rp110 ribu. Untungnya, hanya Rp10 ribu, nanti dibagi dengan pemilik modal,” terangnya.

Dalam sehari, jika ramai, dirinya mengaku bisa menukarkan uang baru sekitar Rp5-10 juta. Namun kalau sepi, rata-rata hanya dikisaran 500 ribu. “Rata-rata per orang konsumen itu kalau tukar uang baru, antara Rp200 ribu – Rp300 ribu. Ada juga yang sampai jutaan, tapi biasanya janjian dahulu,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan penyedia jasa penukaran uang baru, Ina Mutiana. Wanita 23 tahun ini mengaku terjun di usaha jasa penukaran uang baru, karena diajak Rubiyanti, yang masih terhitung saudara.

Ina mengaku untuk menyiasati konsumen yang turun, dirinya juga menawarkan jasa penukaran uang baru melalui media sosial. Tidak jarang, dirinya juga yang mendatangi langsung rumah konsumen.

“Tahun ini sepi, mungkin karena adanya larangan mudik, juga adanya pembatasan sosial dari pemerintah. Untuk menyiasati, saya juga menawarkan jasa penukaran lewat online. Kita bisa datang langsung ke rumah konsumen, atau janjian ketemuan di mana,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya juga mengaku jasa penukaran uang itu, rentan kejahatan. Terlebih, uang tunai yang mereka bawa juga cukup banyak, untuk itu, mereka memilih menawarkan jasa secara bersama-sama.

“Jadi kita tidak sendiri, ada beberapa teman yang lain, yang  juga menawarkan jasa penukaran uang, dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Jadi bisa saling mengawasi dan menolong. Selama ini, alhamdulillah aman-aman saja,” tambahnya.

Sementara, salah seorang konsumen, Ferry JK mengaku, memilih menukarkan uang baru di pinggir jalan dibandingkan harus ke bank. “Lebih cepat, praktis dan tidak perlu antre. Kalau di bank, kita harus antre yang cukup lama, jadi cukup merepotkan,” akunya.

Dirinya juga tidak mempersoalkan jika harus membayar lebih, sebagai imbalan atas jasa yang mereka tawarkan. “Hitung-hitung beramal, lagi pula tidak terlalu banyak. Lebih murah dibanding waktu yang kita perlukan untuk mengantre langsung ke bank,” tandasnya.

Lihat juga...