Kreasi Boneka Proling dari Kaos Kaki Bekas-Limbah Plastik

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Siapa sangka kaos kaki bekas, kain perca hingga limbah plastik, mampu disulap menjadi boneka lucu nan unik. Tidak hanya itu, dengan sentuhan kreativitas, boneka dari bahan limbah dan daur ulang ini, juga bernilai ekonomis.

Hal tersebut ditunjukkan Mahbub Ali, melalui usaha boneka pro lingkungan (proling). Bersama kawan-kawan semasa kuliah di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), mereka merintis usaha tersebut.

“Awalnya usaha ini, didanai melalui Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Kemenristekdikti 2018. Lalu kita terus kembangkan hingga sekarang. Sasaran kita, boneka proling ini, selain sebagai hiasan, juga untuk souvenir. Terutama pada kegiatan wisuda,” papar Mahbub Ali di Semarang, Rabu (27/5/2020).

Mahbub Ali memaparkan sesuai dengan namanya, boneka proling. Produk boneka ini memang menggunakan bahan daur ulang dan limbah plastik, namun dipastikan bahwa boneka ini aman dan higienis, saat ditemui di Semarang, Rabu (27/5/2020). -Foto Arixc Ardana

Dipaparkan, ada sejumlah keunggulan dari boneka proling. Selain ramah lingkungan, karena memanfaatkan limbah plastik dan bahan daur ulang, dari segi estetika juga menarik, sebab pihaknya menawarkan bentuk atau model boneka yang kekinian.

“Sesuai dengan namanya, boneka proling. Produk boneka ini memang menggunakan bahan daur ulang dan limbah plastik, namun kita pastikan bahwa boneka ini aman dan higienis. Sampah plastik dan kaus kaki yang kita gunakan sudah dipastikan bersih dari kotoran lainnya, sehingga aman digunakan. Sementara, dari model atau bentuk boneka, pihaknya juga menyesuaikan dengan tren yang tengah digemari,” terang lulusan Prodi Pendidikan Kimia FMIPA Unimus ini.

Mahbub menuturkan selama ini permintaan cukup tinggi, dari penjualan secara online atau offline. Namun diakuinya, semenjak merebak pandemi covid-19, permintaan menurun drastis. Terlebih, sasaran mereka selama ini merupakan para wisudawan atau keluarga dan kerabat wisudawan.

“Seperti kita ketahui, sejak adanya Covid-19, prosesi wisuda di semua kampus terutama di Semarang, dibatalkan. Otomatis permintaan menurun, padahal pada hari-hari biasa kita bisa memproduksi sekitar 50 boneka per minggu. Untuk sekarang ini, sementara kita hentikan,sembari menghabiskan stok yang ada,” terangnya.

Harga jual boneka proling juga tidak terlalu mahal, bahkan khusus untuk menghabiskan stok yang ada, pihaknya menawarkan harga Rp 20 ribu per boneka, lebih murah Rp 5 ribu dari harga normal. “Pemesanan bisa dilakukan melalui akun instagram kita di boneka_proling. Untuk wilayah sekitar kampus bisa kita antarkan, sementara kala cukup jauh bisa kita paketkan,” tandasnya.

Terkait proses pembuatan, seluruh boneka tersebut dikerjakan sendiri bersama tim. “Pertama kita mengepul atau mengumpulkan plastik bekas, kita pilih yang sesuai kebutuhan. Hal yang sama untuk kaos kaki. Kemudian kita cuci bersih dan dikeringkan,” tambahnya.

“Selanjutnya, kita buat pola yang sesuai dan dijahit, kemudian plastik bekas dan guntingan kaos kaki sisa pola ini kita masukkan kedalam kaos kaki. Termasuk kain perca. Di tahap finishing, kita tambahkan pelengkap dan hiasan. Seperti mata, toga, yang juga menggunakan kain perca. Baru kemudian kita kemas dan siap dipasarkan,” sambungnya.

Sementara, salah seorang pembeli, Ayunia, mengaku tertarik membeli boneka proling setelag melihatnya di akun media sosial. “Bentuknya menarik dan lucu, kebetulan saya juga koleksi boneka pinguin, dan ada boneka proling yang berbentuk pinguin, jadi saya tertarik untuk membelinya,” terangnya.

Ayu mengaku tidak mengetahui jika boneka tersebut, awalnya dibuat dari kaos kaki hingga limbah plastik. “Awalnya tidak tahu, karena bentuknya bagus. Saya tahu setelah dijelaskan, dan tidak mengira kalau bisa sebagus ini,” pungkasnya.

Lihat juga...