Warga Pendatang di Sikka Diminta Disiplin Karantina Mandiri
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Para pelaku perjalanan dari luar kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur yang masuk ke daerah ini diminta untuk mentaati anjuran pemerintah, agar jangan keluar rumah selama menjalani masa karantina mandiri. Masyarakat termasuk petugas Posko Covid-19 di desa dan kelurahan, juga diminta turut mengawasi mereka yang menjalani karantina mandiri, bukan malah mencegah agar orang menjalani karantina mandiri.
“Saya pikir sudah saatnya hentikan penolakan dan lakukan edukasi kepada masyarakat soal yang baik. Kita harus mengawasi agar mereka yang menjalani karantina mandiri tidak berkeliaran,” kata juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penaanganan Covid-19 kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, Minggu (19/4/2020).
Petrus berpesan agar pelaku perjalanan harus disiplin saat menjalani karantinan, sebab yang menjadi soal dikembalikan ke rumah tetapi karatina mandiri tidak disiplin, sehingga meresahkan masyarakat.

Pihaknya pun akan menugaskan petugas kesehatan di Puskesmas terdekat untuk melakukan pengawasan dan pemantaun terhadap pelaku perjalanan yang sedang menjalani karantina mandiri di rumah.
“Pertanyaan saya, kalau masyarakat yang menolak pelaku karantina yang belum positif, tetapi mereka yang positif, maka seperti apa? Pemerintah pasti melakukan langkah terbaik untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” jelasnya.
Pelaku perjalanan di kabupaten Sikka, jelas Petrus, mendekati 4.000 dan 2.000 lebih sudah selesaikan dengan baik masa karantinanya, dan sisa seribu lebih dijaga agar jangan sampai jatuh ke ODP atau PDP.
“Kita juga telah merekrut 50 relawan dan besok 117 orang akan disebar lagi ke desa. Para relawan ini bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat soal Covid-19, sehingga diharapkan tidak ada lagi penolakan soal lokasi karantina,” ujarnya.
Pety, warga desa Iantena, dan Igo warga desa Geliting, kecamatan Kewapante, mengaku kesal dan marah atas informasi dari pemerintah desa yang menyebutkan keduanya, suami istri dan positif Covid-19.
Menurut Pety, kepala desa menyampaikan kepada warga dan Posko Covid-19 kabupaten Sikka, bahwa keduanya positif dan tetangga mereka di Makassar meninggal karena Covid-19.
“Kami juga tidak tahu informasi itu, bahkan kami dibilang suami istri dan positif Covid-19. Di Makassar saja kami hanya di dalam rumah saja, karena tidak ada pekerjaan, sehingga tidak mengetahui ada informasi ini,” tuturnya.
Pety mengaku bersama teman lelakinya, Igo, baru tiba dari Makassar dengan pesawat Wings Air dan saat berada di bandara oleh petugas Posko Covid-19 disuruh menunggu.
Keduanya pun menjalani screening dan dicek suhu tubuhnya, ditanya mengalami gejala flu dan batuk serta riwayat perjalanan dan tempat tinggal di Sulawesi Selatan.
“Saat dites, suhu tubuh saya 36.4 derajat Celsius dan teman saya Igo 36,7 derajat Celsius.Kami dua bukan suami istri, tetapi teman sama-sama di Makassar dan kebetulan dari kecamatan yang sama di Sikka,” jelasnya.
Pety dan Igo mengaku kesal, karena keduanya dijemput menggunakan mobil ambulans dan dikatakan positif Covid-19 tanpa ada pemeriksaan medis terlebih dahulu sesuai protokol kesehatan.
Padahal, sebut dia, dari Makassar telah menjalani pemeriksaan lengkap, bahkan di bandara juga diambil darahnya dan dites kesehatan terlebih dahulu sebelum berangkat.
“Apa yang disampaikan pemerintah desa itu tidak benar, sebab buktinya sampai sekarang kami berdua baik-baik saja. Kami juga bukan suami istri dan hanya teman biasa,” tegasnya.