Pendapatan di Sektor Pariwisata Halal Turun hingga 20 Persen

Editor: Koko Triarko

BRI atau Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyiapkan uang tunai hingga Rp46,85 triliun untuk memenuhi kebutuhan Lebaran 2022. -Foto: Koko Triarko

JAKARTA – Pandemi Covid-19 meruntuhkan semua sektor ekonomi, termasuk industri halal, utamanya sektor pariwisata halal yang diperkirakan 20-30 persen pendapatannya menurun.

Direktur Pendidikan dan Penelitian KNKS, Sutan Emir Hidayat, mengatakan sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, laporan Global Islamic Economy Indicator (GIEI), menyebut industri halal tumbuh diperkirakan mencapai USD 3,5 triliun pada 2024. Bahkan pada 2018, peningkatan standing terhadap gaya hidup halal dari 2017 sebesar 5,1 persen.

Industri halal ini, jelas dia, banyak sektor di antaranya makanan, minuman, fashion, pariwisata, farmasi, kosmetika, media, dan lainnya.

Direktur Pendidikan dan Penelitian KNKS, Sutan Emir Hidayat, dalam diskusi online bertajuk ‘Dampak Covid-19 Terhadap Industri Halal’ di Jakarta, Rabu (29/4/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Dampak Covid-19 terhadap sektor tersebut juga berbeda-beda. Paling terdampak adalah sektor pariwisata halal, yang diperkirakan 20-30 persen pendapatan menurun akibat dampak Covid-19 ini.

“Bahkan, jumlahnya diperkirakan untuk penurunan pendapatan itu bisa mencapai USD 150 miliar,” kata Emir, dalam diskusi online bertajuk ‘Dampak Covid-19 Terhadap Industri Halal’ di Jakarta, Rabu (29/4/2020).

Bahkan, tambah dia, kehilangan pekerjaan pun cukup signifikan dalam berbagai sektor tersebut. Seperti di Indonesia dan Turki.

Dampak Covid-19 terhadap industri halal di negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) juga berbeda-beda. Ada negara yang memang sudah memiliki ketahanan pangan cukup baik, sehingga dampak pandemi ini bagi perekonomian negara tersebut tidak terasa.

Namun bagi negara yang mempunyai ketahanan pangan, tetapi tergantung kepada impor, dampaknya akan sangat terasa lebih besar. Apalagi, kalau negara yang tidak memiliki sumber pangan, efeknya akan jauh lebih parah.

Namun demikian, kata Emir, d ibalik dampak Covid-19 ini masih ada peluang dan inovasi berbagai pemasaran yang bisa dilakukan oleh industri halal. Seperti di Mesir belum lama ini, meluncurkan program pariwisata virtual menggunakan trendy photo.

Sehingga, wisatawan tidak perlu datang ke tempat wisata tersebut, tapi cukup duduk manis di rumah dalam kondisi pandemi Covid-19. Kita sudah bisa menggunakan media online tersebut merasakan sensasi serasa berada di tempat wisata halal yang ingin dikunjungi.

“Di Indonesia juga sudah ada shoping online yang di masa Work from Home (WFH) ini sangat dibutuhkan. Masyarakat bisa membeli makanan halal lewat sistem ini,” ujarnya.

Selain itu, ada juga strategi untuk bisa bertahan agar industri halal bangkit dan kembali maju. Ada pun tipnya, kata Emir, adalah komunikasi harus lebih baik dan jangan menggunakan anggaran pemasaran.

Terpenting lagi berfokus kepada made making, bukan made working. Juga fokus pada riset penelitian dan pengembangan industri halal.

“Karena kita sama-sama mengetahui akibat Corona ini kebanyakan negara-negara Islam yang terdampak kurang siap dalam menghadapi pandemi ini,” tukasnya.

Sehingga, ke depan dalam pengembangan industri halal, menurutnya negara-negara anggota OKI harus lebih antisipatif, bisa meningkatkan penilitian dan pengembangan.

“Jadi kalau kita  terjadi pandemi ini sudah punya persiapan yang lebih baik. Misalnya, vaksin, bisa ditemukan dan rapid test tidak perlu impor bisa dibuat sendiri,” pungkasnya.

Lihat juga...