Kamis Putih Uskup Tanjungkarang Ajak Doakan Covid-19 Berakhir

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mengajak umat Katolik berdoa agar wabah Coronavirus Disease (Covid-19) segera berakhir.

Sebagai pemimpin umat Katolik di seluruh Lampung itu ia menyebut Covid-19 telah mempengaruhi semua sektor kehidupan. Sektor ekonomi, pemerintahan, dunia medis, agama telah ditimbulkan akibat virus tersebut.

Pengaruh bagi umat Katolik di Indonesia menurut uskup berimbas ibadah ekaristi, doa lingkungan tidak bisa dilakukan. Masa tanggap darurat akibat Covid-19 bahkan membuat perayaan Pekan Suci yang kerap digelar pada gereja harus dilakukan memakai live streaming.

Seluruh umat Katolik disebutnya diajak mendoakan tenaga medis, dokter serta orang yang meninggal akibat Covid-19.

Doa bagi para ilmuwan yang melakukan penelitian untuk menemukan vaksin Covid-19 disebut Yohanes Harun Yuwono juga terus dilakukan. Selain berdoa, imbauan untuk tinggal di rumah menjadi sebuah refleksi bagi umat.

Sebab virus Covid-19 yang ikut menyerang peradaban manusia tidak memandang agama, suku, ras dan golongan.

“Munculnya wabah Corona yang dianggap sebagai pembunuh menakutkan menyadarkan semua pihak untuk bahu membahu dalam upaya pencegahan sehingga virus tersebut bisa berakhir di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia,” terang uskup Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono dalam khotbahnya via live streaming, Kamis (9/4/2020).

Gereja Katolik juga disebut uskup memberi perhatian bagi masyarakat yang terimbas Corona secara tidak langsung. Pekerja yang masih tetap bekerja diantaranya TNI, Polri, dokter, jurnalis, buruh, pengemudi, pedagang tetap beraktivitas masih tetap berjuang.

Meski bekerja dengan risiko harus terpapar Covid-19 dalam rasa was-was masyarakat tetap bekerja.

Menilik sejarah perayaan Ekaristi ribuan tahun lalu pada malam Kamis putih, Covid-19 menjadi refleksi. Sebab aturan lockdown, karantina terbatas dengan ibadah di rumah bukan bertujuan untuk meninggalkan Gereja.

Mengacu pada sejarah Yesus Kristus tersebut dengan adanya virus Covid-19 “memaksa” umat ibadah di rumah.

“Altar Tuhan di Gereja Kosong, tidak bisa menerima Ekaristi menjadi kesadaran baru bahwa ibadah juga dilakukan pada setiap rumah bersama keluarga,” tegas bapa uskup.

Seraya mendoakan Corona berakhir, uskup Tanjungkarang menyebut Covid-19 menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Sebab dengan banyaknya kematian akibat Covid-19 menjadi sebuah refleksi ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah. Doa bersama dengan keluarga juga diiriingi dengan rajin membaca kitab suci dalam masa lockdown.

Hujan selama 80 hari dan air menggenangi bumi selama 150 hari Nabi Nuh bisa jadi contoh. Masa lockdown terlama selama 1 tahun 2 bulan yang dialami nabi Nuh, keluarga dan sejumlah binatang menjadi sebuah perhatian warga.

Masa bertahan dalam bahtera laut hingga yang kini diibaratkan sebagai masa lockdown dipastikan akan menimbulkan kebosanan.

“Namun dalam situasi yang sulit Nuh tidak kehilangan iman namun sabar hingga air bah surut, itu yang terjadi pada masa pandemi Covid-19 ini,” tambah Uskup.

Usai berakhirnya air bah, Nabi Nuh bisa keluar dari bahtera lautan dan mendirikan mesbah persembahan. Melalui Kamis Putih yang menjadi anamnese atau kenangan akan pengorbanan Yesus pemberian diri Yesus yang saat ini dikenang dalam perayaan Ekaristi menjadi permenungan bahwa ibadah di rumah, tinggal di rumah perlu dilakukan.

“Selama pekan suci ini penerimaan Ekaristi secara rohani tetap bisa dilakukan meski tidak ke gereja,” beber bapa Uskup.

Selain liturgi bacaan, homili atau khotbah, perayaan Ekaristi Kamis Putih secara live streaming diisi dengan doa umat. Meski tanpa kehadiran umat, Ekaristi live streaming dari kapel rumah uskup Tanjungkarang juga tetap menjalankan prosesi pembasuhan kaki.

Prosesi pembasuhan kaki menjadi simbol Yesus Kristus yang rela menyerahkan diri sebelum kematian-Nya.

Theresia, umat Katolik di Stasi Santo Petrua dan Paulus Penengahan Lampung Selatan menyebut mengikuti Ekaristi Kamis Putih secara live streaming.

Memanfaatkan komputer untuk layanan live streaming umat Katolik di Lampung mengikuti Ekaristi Kamis Putih yang dipimpin oleh uskup Tanjungkarang,Mgr Yohanes Harun Yuwono, Kamis (9/4/2020) – Foto: Henk Widi

Sejak masa Pekan Suci pada Minggu Palma, Kamis Putih Jumat Agung, Malam Paskah hingga Minggu Paskah ia tidak merayakan di gereja. Meski demikian ia dan keluarganya tetap bisa mengikuti live streaming.

“Kami masih bisa mengikuti Pekan Suci salah satunya Kamis Putih dan tidak mengurangi kekhusukan kami dalam ibadah,” bebernya.

Pada masa pandemi Covid-19 selama masa tanggap darurat ia menyebut ibadah di gereja ditiadakan. Sesuai dengan surat keputusan Uskup Tanjungkarang Ekaristi hanya dilakukan oleh imam di keuskupan dan sejumlah paroki.

Masa darurat pencegahan penularan Covid-19 disebutnya masih akan berlangsung hingga 30 April mendatang.

Lihat juga...