Sepi Pembeli, Pedagang di Pasar Wage Saling Barter Dagangan
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
PURWOKERTO — Fasilitas kran air lengkap dengan sabun untuk cuci tangan yang disiapkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas, ternyata tak mampu untuk membuat pasar tradisional tetap ramai. Sepinya pembeli dikeluhkan semua pedagang dan untuk memenuhi kebutuhan mereka, para pedagang ini saling barter barang dagangan.
“Pak, duku satu kilogram ditukar dengan tempe dua potong ya, buat lauk makan anak-anak di rumah,” kata Suwarti, Selasa (31/3/2020) sambil mendatangi salah satu penjual tempe di Pasar Wage.
Suwarti menuturkan, sejak tiga hari terakhir, dagangannya tidak ada yang laku. Sehingga ia tidak mempunyai uang untuk membeli keperluan rumah, karena itu ia mengajak pedagang lain untuk bertukar barang dagangan.
Duku satu kilogram yang seharusnya dijual dengan harga Rp 12.000, harus rela ditukar dengan dua potong tempe seharga Rp 8.000. Meskipun rugi dalam barter barang dagangan tersebut, namun Suwarti menyadari, buah bukanlah bahan makanan pokok yang dibutuhkan setiap hari dan jika terlalu lama tidak laku-laku, maka buah juga akan membusuk.
“Daripada buahnya membusuk semua, lebih baik saya tukar dengan barang kebutuhan lainnya, meskipun harus merugi, terutama yang bisa untuk lauk makan anak-anak di rumah,” katanya.
Sementara penjual tempe dari Desa Pliken, Kecamatan Sokaraja, Amin mengatakan, ia sudah mengurangi produksi, namun masih tetap tidak habis dagangannya.
Biasanya Amin memproduksi 40 kilogram kedelai sebagai bahan baku tempe, sekarang ia hanya membuat 25 kilogram. Namun, hingga siang hari barang dagangannya masih banyak.
Padahal, menurutnya, sekarang bahan baku kedelai harganya naik. Biasanya satu kilogram hanya Rp 7.000, sekarang naik menjadi Rp 8.200 per kilogram.
“Kedelai mahal, tetapi jualan tempe sepi, daripada tidak habis yang ditukar dengan buah atau barang lainnya tidak apa-apa,” katanya.
Meskipun tempe bisa diolah menjadi lauk makan, namun Amin mengaku, keluarganya di rumah sudah bosan tiap hari makan tempe. Kalau diolah menjadi oseng tempe atau mendoan, hanya sebagian kecil saja.
Selain bertukar dagangan dengan penjual buah, Amin juga beberapa kali bertukar dagangan dengan penjual tahu dan penjual sayuran.