Sayur Organik di Sikka Diminati Pembeli

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Bisnis  sayuran organik di kota Maumere sangat menjanjikan dan tak sedikit anak muda yang terjun menjadi petani organik karena banyaknya permintaan pasar dan keuntungan yang diperoleh pun lumayan besar.

Sayuran organik selain dijual di pasar-pasar tradisional di kota Maumere, sayuran organik juga banyak dibutuhkan hotel, rumah makan serta tiga rumah sakit yang ada di Kabupaten Sikka.

“Permintaan sayuran organik sangat besar, bukan saja di rumah makan tetapi di hotel maupun rumah sakit. Pembeli di pasar tradisional juga banyak,” kata Beny Pongoh, salah seorang petani sayur organik di Kabupaten Sikka, Senin (9/3/2020).

Beny Pongoh, salah seorang petani sayur organik di Kabupaten Sikka, Senin (9/3/2020). -Foto: Ebed de Rosery

Beny sapaannya mengatakan, dirinya masih belum mampu memenuhi pasaran untuk rumah sakit meskipun sudah ada permintaan karena pembeli dari rumah makan dan pasar juga banyak.

Sayuran yang dijual sebutnya antara lain kangkung, sawi, seledri, tomat,lombok,kol dan lainnya dimana dirinya saat ini mempunyai 80 bedeng untuk menanam aneka sayuran.

“Saya baru mulai tanam sayur organik mulai bulan September 2019 lalu.Keuntungan yang diperoleh pun lumayan besar hingga mencapai Rp15 juta per bulannya,” ungkapnya.

Beny mengaku kewalahan dan hanya dibantu sang isteri dan dua tetangganya yang diupah untuk memetik dan menyiangi sayuran serta mengikatnya untuk dijual kepada pembeli di kota Maumere serta dijual sang istri di pasar Alok Maumere.

Dirinya memiliki 80 bedeng yang ditanam berbagai macam jenis sayuran disesuaikan dengan permintaan pasar sambil melihat kondisi pasar dimana bila jenis sayuran tertentu mulai berkurang maka dirinya akan menanam lagi.

“Kadang kalau stok banyak di pasar saya tanam tomat atau lombok dan sayuran lainnya agar harga jualnya lebih tinggi. Setiap hari selalu saja ada pembeli dan sayuran selalu laku terjual,” terangnya.

Beny mengaku menyiapkan modal Rp.30 juta untuk menanam aneka sayuran tersebut serta membeli bibit bunga beraneka warga sebagai pengusir hama yang selalu menyerang tanaman.

Dirinya berharap semakin banyak anak muda yang terjun ke pertanian karena keuntungan yang diperoleh sangat menjanjikan sebab selama ini sayuran seperti wortel, tomat, lombok dan bawang didatangkan dari luar Pulau Flores.

“Banyak sayuran yang didatangkan dari Sulawesi dan Bima provinsi Nusa Tenggara Barat.Memang selama ini orang mengatakan menjadi petani itu tidak menguntungkan namun bagi saya ini sebuah pekerjaan yang mendapatkan uang banyak,” ungkapnya.

Laetisia Weni, salah seorang pembeli yang ditemui di pasar Alok Maumere mengatakan dirinya selalu membeli sayuran organik meskipun harganya lebih mahal dibandingkan yang menggunakan pestisida atau bahan kimia.

Laetisia mencontohkan sayur kangkung dan sawi organik yang dijual satu ikatnya Rp5 ribu sementara yang berbahan kimia dijual dua ikat Rp5 ribu bahkan bisa lebih murah serta banyak dijual pedagang di pasar tradisional.

“Saya sudah terbiasa mengkonsumsi sayur organik sehingga bisa membedakan mana yang organik dan kimia. Kalau organik itu sering sayurannya berlubang karena bekas dimakan serangga,” ungkapnya.

Lihat juga...