RUU Stimulus Memicu Pengambilan Risiko, Dolar AS Jatuh
NEW YORK – Nilai tukar dolar AS jatuh, terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, pada akhir perdagangan Rabu (25/3/2020) waktu setempat atau Kamis (26/3/2020) pagi WIB.
Kondisi tersebut terpicau keberadaan Rancangan Undang-Undang (RUU) Stimulus dua triliun dolar AS, yang membantu meningkatkan risiko, dan mengurangi permintaan terhadap mata uang safe haven tersebut.
Saham-saham melonjak untuk hari kedua, ketika para senator AS memberikan suara untuk paket legislasi bipartisan guna mengurangi dampak ekonomi yang merusak dari pandemi virus corona. Mereka berharap itu akan menjadi undang-undang dengan cepat.
Investor diprediksi juga kemungkinan mengurangi eksposur terhadap dolar, menjelang data klaim pengangguran Kamis (26/3/2020), yang diperkirakan akan menunjukkan lonjakan orang Amerika yang mengajukan tunjangan karena perusahaan-perusahaan tutup di seluruh negeri, dalam upaya mengekang penyebaran virus.
“Perkembangan hari ini adalah alasan yang baik untuk mengecilkan taruhan bullish pada dolar. Tetapi sentimen masih positif (untuk dolar) karena ketidakpastian tetap tinggi tentang kerusakan ekonomi dari virus,” kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions, di Washington.
Gubernur New York, Rabu (25/3/2020) mengatakan, ada tanda-tanda tentatif, bahwa pembatasan memperlambat penyebaran virus corona di negara bagiannya. Bahkan, termasuk ketika krisis kesehatan masyarakat semakin dalam di New Orleans.
Klaim pengangguran pada Kamis (26/3/2020), diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar satu juta, dari 281.000 di minggu sebelumnya, berdasarkan perkiraan median dari jajak pendapat terhadap para ekonom.
Indeks dolar turun 0,81 persen menjadi 101,87. Sterling melonjak 1,33 persen menjadi 1,1913 dolar. Euro menguat 0,91 persen terhadap greenback menjadi 1,0885 dolar. Mata uang tunggal juga didorong setelah majelis rendah Jerman pada Rabu (25/3/2020), menangguhkan rem utang konstitusional negara itu.
Ekonomi Jerman dapat berkontraksi sebanyak 20 persen di tahun ini, karena dampak dari virus corona, sebut ekonom Ifo, Rabu (25/3/2020). Hal itu disampaikan, ketika kepercayaan bisnis Jerman jatuh ke level terendah sejak krisis keuangan global pada 2009. Investor juga terus mencerna pengumuman Federal Reserve, yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Senin (23/3/2020), bahwa mereka akan meluncurkan pelonggaran kuantitatif (QE) tanpa batas. Dan hal itu diyakini akan berdampak pada greenback.
“QE pertama kali diperkenalkan kembali pada 2008, dolar pada awalnya melemah tetapi kemudian pulih ke level yang lebih kuat. Kami percaya bahwa dinamika kemungkinan akan terungkap sekarang,” kata Win Thin, kepala strategi mata uang global di Brown Brothers Harriman di New York. (Ant)