Persembahyangan Umat Hindu di Lamsel Digelar Terbatas
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Ikuti imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing atau mengatur jarak sosial, rangkaian Hari Raya Nyepi digelar terbatas. Agung Putra, pemangku Pura Amerta Sari di Desa Sripendowo,Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut kegiatan persembahyangan dilakukan secara terbatas.
Pada rangkaian Nyepi tahun baru saka 1942 meliputi Pelastian, Pecaruan, Pangrupukan dan Penyepian digelar tanpa melibatkan kerumunan massa. Sebelumnya ritual pelastian atau melasti kerap digelar pada pantai Puri Dewata, pantai Batu Putih di pesisir timur Lamsel. Pihaknya mengikuti imbauan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sesuai surat edaran pemerintah agar tidak menggelar kegiatan melibatkan massa.
Acara Melasti yang merupakan kegiatan penyucian jelang Nyepi diakui Agung Putra dilakukan oleh warga di sekitar pura. Ia memastikan tidak melakukan ritual dengan ribuan umat Hindu seperti tahun sebelumnya. Sebab pandemi corona (Covid-19) berimbas kegiatan yang melibatkan kerumunan sementara ditiadakan. Melasti yang tetap digelar diikuti oleh puluhan umat tanpa mengurangi makna ritual suci itu.
“Tempat Melasti biasanya pantai namun dengan adanya upaya pemerintah mengurangi penyebaran Covid-19 ritual dilakukan internal umat Hindu di sekitar pura Amerta Sari yang dominan hanya melakukan kegiatan bertani tanpa bepergian ke luar daerah,” beber Agung Putra, pemangku pura Amerta Sari saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (22/3/2020).

Imbauan bekerja dari rumah, belajar di rumah dan kegiatan local distancing diakuinya justru ikut menjaga kekhidmatan Nyepi. Pada kegiatan Melasti ia menyebut air suci diambil dari mata air, sumur dan sungai yang ada di desa tersebut. Meski tanpa berkumpul dengan umat Sedharma dari wilayah lain ia memastikan rangkaian Nyepi sekaligus menjadi waktu untuk mengheningkan semesta.
Hari raya Nyepi tahun baru Saka 1942 yang jatuh pada Rabu (25/3/2020) menurutnya akan diisi dengan sejumlah ritual. Ritual yang akan dilakukan meliputi Pecaruan atau berdoa di perempatan Agung, malam pangrupukan dengan pembakaran ogoh ogoh dan Penyepian. Sejumlah ritual menurutnya akan disesuaikan dengan persembahyangan terbatas tanpa melibatkan umat dari wilayah lain.
Agung Putra menyebut imbauan untuk melakukan social distancing menjadi cara umat Hindu mempersiapkan Nyepi. Sejumlah persiapan yang dilakukan meliputi penyiapa banten atau sesaji. Bedanya sejumlah acara tidak akan digelar dengan melibatkan kerumunan massa. Pawai ogoh ogoh yang kerap dilakukan jelang Nyepi menurutnya akan ditiadakan.
“Hindari kerumunan massa, ogoh ogoh tidak diarak tetapi langsung dibawa ke lokasi pangrupukan, itu juga tidak mengurangi makna ritual,” cetus Agung Putra.
Imbauan tidak melakukan kegiatan pawai ogoh ogoh juga telah disampaikan. Sebelumnya setiap desa akan mengirimkan ogoh ogoh dengan jumlah 30 ogoh ogoh. Namun dengan adanya pandemi Covid-19 yang tengah melanda, sejumlah ritual jelang Nyepi akan dilakukan terbatas. Selama masa Nyepi umat juga dihimbau untuk berdoa bagi keselamatan bangsa dan negara agar Covid-19 berakhir.

I Made Sudana, mangku yesi atau pinandita pemimpin upacara persembahyangan di Pura Pusekh Kayangan Tiga, Desa Sumur menyebut mengikuti himbauan pemerintah. Ia menyebut semua agama telah melakukan penghentian sementara peribadahan yang melibatkan berkumpulnya massa. Upaya pencegahan penyebaran Covid-19 diakuinya perlu didukung.
Rangkaian Nyepi di wilayah Desa Sumur diakui I Made Sudana digelar secara terbatas. Ritual Melasti yang dilakukan pada pantai Pagelaman Yogaloka diisi dengan penyucian tanpa diikuti oleh seluruh umat. Sebagian umat melakukan Melasti di pura dengan tetap memperhatikan social distancing. Selain itu perayaan yang diikuti pada pura pusekh hanya oleh warga setempat.
“Warga dipastikan tidak pernah melakukan perjalanan keluar daerah namun Pura akan disemprot disinfektan,disiapkan hand sanitizer,” tuturnya.
Memaknai rangkaian Nyepi kegiatan bekerja dari rumah,belajar di rumah diakui I Made Sudana dimaknai sebagai penyepian. Sejumlah umat yang tidak bekerja,belajar seperti biasa menurutnya telah ikut menjalani masa Nyepi yang panjang. Sebab pada puncak Nyepi umat Hindu diajak Amati Geni atau tidak menyalakan api, Amati Lelungan atau tidak bepergian, Amati Karya atau tidak bekerja yang merupakan implementasi social distancing anjuran pemerintah.