Penumpang Sepi Berdampak pada Penjualan Produk UMKM di Bakauheni

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sepinya arus penumpang pejalan kaki dari Sumatera tujuan Jawa dan sebaliknya via pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) ikut berpengaruh pada penjualan produk Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM).

Suhairul, penanggungjawab gerai Dekranasda Lamsel di terminal eksekutif Bakauheni menyebut penurunan omzet terjadi sejak awal Maret. Pada kondisi normal penjualan mencapai puluhan produk. Sesuai data yang dicatat, perhari bisa mencapai Rp3juta.

Omzet sebanyak itu diperoleh dari penjualan produk makanan dan minuman. Jenis makanan yang dijual meliputi keripik, selai, abon lele, kopi bubuk, kerupuk kemplang dan puluhan produk lain.

“Kini omzet sehari Rp1 juta mulai sulit diperoleh,” terang Suhairul saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (31/3/2020)

Produk UMKM tersebut berasal dari pelaku usaha yang ada di sebanyak 17 kecamatan di Lamsel. Imbas Coronavirus Disease (Covid-19) penumpang kapal berkurang menyebabkan penurunan penjualan produk.

“Konsumen yang datang untuk membeli produk di gerai Dekranasda Lamsel umumnya penumpang asal Sumatera sembari menunggu keberangkatan kapal eksekutif, tapi semenjak muncul Covid-19 penumpang sepi,” tambahnya.

Suhairul menyebut sejumlah gerai yang beroperasi di terminal eksekutif bahkan sementara berhenti operasi. Namun Dekranasda Lamsel yang menjual sejumlah produk makanan, minuman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat masih tetap buka.

Salah satu produk andalan berupa Kopi Lampung Selatan (Kolase) masih kerap diminati pelanggan. Meski kopi Kolase yang berbahan arabica masih jadi andalan ia juga menyebut volume pembelian anjlok. Pada kondisi normal dalam sehari ia bisa menyeduh sebanyak 100 gelas namun kini maksimal hanya 50 gelas.

Edaran larangan berkumpul, bepergian antar wilayah menurutnya ikut mengurangi omzet. Suhairul menyebut kini pelanggan yang masih tetap menjadi konsumen didominasi pekerja pelabuhan.

“Semula konsumen dominan dari penumpang namun kini hanya pekerja pelabuhan meski jumlahnya juga terbatas,” bebernya.

Sepinya kunjungan sekaligus menjual produk UMKM juga diakui pengelola Rumah Kreatif Bakauheni. Alvin Reka Marta, koordinator Rumah Kreatif Bakauheni (RKB) menyebut sebanyak 300 produk dijual di tempat tersebut. RKB menjual produk kerajinan berupa pakaian tapis, topi tapis dan produk makanan. Dalam sehari pada kondisi normal produk makanan yang dijual menghasilkan omzet sekitar Rp2 juta.

“Omzet penjualan sangat berpengaruh dengan hasil penjualan menyesuaikan penumpang menyeberang ke Merak dan ke Bakauheni,” terangnya.

Faktor berkurangnya omzet akibat kunjungan ke terminal eksekutif Bakauheni berkurang. Sebagai pusat perbelanjaan, hiburan sejumlah tenant yang ditutup sejak dua pekan lalu. Tempat hiburan berupa kids zone, tempat santai di lantai dua terminal eksekutif yang mulai sepi membuat pengunjung di RKB berkurang.

Alvin Reka Marta menyebut belum menutup gerai tersebut karena menyediakan sejumlah kebutuhan pokok calon penumpang.

Lihat juga...