Pasar Tradisional hingga Mal di Purwokerto Sepi Pengunjung
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PURWOKERTO – Sejak dua hari terakhir, jalanan di Kota Purwokerto sepi. Kampus dan sekolah libur, beberapa rumah makan juga tutup. Para pedagang di pasar tradisional mengeluh akan turunnya omzet penjualan.
Amin, pedagang daging di Pasar Wage Purwokerto, mengatakan, biasanya menjelang sore hari, daging dagangannya sudah habis. Namun, sekarang masih tersisa cukup banyak.
“Dari tadi pagi yang beli hanya beberapa orang saja, daging yang terjual belum ada 10 kilogram,” katanya, Selasa (17/3/2020).
Menurutnya, beberapa tukang bakso yang biasa membeli daging di tempatnya memilih untuk libur berjualan. Sebab, lanjutnya, menurut para tukang bakso tersebut, dagangannya sepi, karena para mahasiswa banyak yang pulang kampung.
Begitu pula dengan warung nasi padang yang berlokasi di dekat kampus, sebagian memilih untuk tutup sementara waktu.
“Selain kota menjadi sepi, banyak yang memilih untuk tetap di rumah, karena takut terkena virus corona,” tutur Amin.
Tak hanya penjualan daging yang sepi, penjual sayuran, ayam, aneka jajanan hingga pedagang buah juga mengeluhkan hal yang sama. Omzet penjualan mereka rata-rata menurun hingga 50 persen lebih. Beberapa kios di Pasar Wage yang biasanya buka hingga sore hari, juga memilih untuk tutup lebih awal.
Salah satu penjual bakso yang mangkal di dekat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Sarno juga mengakui hal yang sama.
Menurutnya, jalanan sangat sepi, tak hanya mahasiswa yang pulang kampung, namun warga asli Purwokerto juga banyak yang memilih untuk tetap di rumah.
“Dagangannya sepi, ini masih banyak. Kemarin hari Senin (16/3/2020) juga sudah sepi pembeli, saya pikir karena hari pertama imbauan libur sekolah dan penutupan tempat wisata dari pemerintah sehingga sepi. Tetapi ternyata masuk hari ke dua ini juga masih sepi juga,” keluhnya.
Sementara itu, mal yang berada di pusat Kota Purwokerto yang biasanya ramai pengunjung hingga menyebabkan kemacetan lalu-lintas di depannya, juga terlihat sepi, bahkan lengang. Tempat parkir yang biasanya berjubel, juga terlihat sangat longgar.

“Orang-orang memilih tetap di rumah, saya kalau tidak terpaksa ada kebutuhan yang harus dibeli juga tidak akan ke mal,” kata salah satu pengunjung mal, Evi.