Lingkungan Perairan Bersih, Jaga Kualitas Kerang Hijau
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kondisi lingkungan perairan pesisir timur yang bersih menjaga kualitas budidaya kerang hijau dan rumput laut.
Asih, pembudidaya rumput laut jenis rumput laut putih (spinosum) menyebut, perairan Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) minim pencemaran. Selain rumput laut ia dan warga lain membudidayakan kerang hijau (Perna viridis).
Kebersihan perairan bagi budidaya rumput laut, kerang hijau menurutnya telah dilakukan pengujian. Uji laboratorium pada media tanam rumput laut dan kerang hijau telah dilakukan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung.
Lingkungan minim pencemaran sekaligus menjadi indikasi tingkat pertumbuhan rumput laut, kerang hijau yang normal.

Lokasi budidaya rumput laut diakui Asih berada jauh dari muara sungai. Sebab muara sungai memiliki potensi pengendapan dan kiriman sejumlah sampah terutama plastik.
Kondisi tersebut membuat kawasan pantai Agro, pantai Sukabandar bebas kandungan logam, tumpahan minyak dan pencemaran sampah berimbas residu bahan berbahaya yang bisa terserap rumput laut dan kerang hijau.
“Perputaran arus laut di perairan pantai Legundi didukung oleh keberadaan pulau pulau kecil diantaranya Seruling, Seram Kopiah yang menjaga kiriman sampah atau bahan bahan berbahaya untuk budidaya rumput laut dan kerang hijau,” terang Asih saat ditemui Cendana News di pantai Legundi, Rabu (4/3/2020).
Indikator lingkungan yang bersih menurutnya pertumbuhan rumput laut tidak mengalami kekerdilan. Sebab saat terjadi sampah kiriman dari arus laut bersumber dari muara sungai Way Sekampung air akan keruh.
Keruhnya air laut membawa material sampah, lumpur berimbas pada tumbuhnya lumut hijau. Jenis lumut hijau menurutnya berimbas kekerdilan pada tanaman rumput laut dan mengganggu perkembangan kerang hijau.
Pada kondisi normal, rumput laut yang dibudidayakan menurut Asih bisa dipanen usia 30 hari. Jenis rumput laut spinosum dalam kondisi perairan yang mendukung dipanen secara parsial pada usia 25 hari.
Hasil budidaya rumput laut dan kerang hijau minim pencemaran membuat komoditas budidaya yang dihasilkan dijamin sehat untuk dikonsumsi.
“Secara kasat mata kondisi perairan yang tercemar akan mempengaruhi pertumbuhan rumput laut dan kerang hijau,” bebernya.
Pemilik sebanyak 100 jalur rumput laut tersebut mengaku melakukan penanaman secara berkelanjutan. Usai proses pemanenan akan dilakukan penanaman rumput laut pada jalur tambang yang dipasang pada tonggak kayu dan bambu.
Proses penanaman berkelanjutan dilakukan agar mata rantai bibit bisa selalu tersedia. Perairan yang bersih sekaligus meminimalisir hama jenis ikan semadar, lumut yang merusak rumput laut.
Kebersihan perairan Desa Legundi diakui juga oleh Amran Hadi. Pembudidaya kerang hijau itu menyebut arus laut dari timur ke barat didukung keberadaan sejumlah pulau.
Pada musim angin timur ia menyebut lokasi budidaya aman dari terjangan gelombang. Arus laut dari sisi timur yang membawa sampah, lumpur sungai Way Sekampung terhalang sejumlah pulau.
“Letak geografis mendukung terjaganya habitat rumput laut dan kerang hijau yang kami budidayakan,” tutur Amran Hadi.

Ketua kelompok pembudidaya rumput laut, kerang hijau Sinar Semendo itu mengaku, dua komoditas cocok dikembangkan di perairan Legundi. Meski di sejumlah pantai seperti Ruguk Tridharmayoga telah dikembangkan komoditas yang sama kualitas yang cukup baik ada di pantai tersebut.
Kualitas yang baik budidaya kerang hijau menurut Amran Hadi berimbas permintaan rutin dari pemilik usaha kuliner.
Salah satu kendala budidaya kerang hijau menurutnya kekhawatiran akan kandungan logam berbahaya. Laut yang tercemar logam berbahaya, timbal, tumpahan minyak disebutnya tidak terjadi pada perairan Legundi.
Memiliki sekitar 10 ribu tonggak budidaya kerang hijau yang bisa dipanen usia 6 bulan ia menyebut saat usia 3 bulan bisa dipanen parsial. Pertumbuhan yang pesat diakuinya jadi indikasi lingkungan perairan yang bersih.