Petani Bangunrejo Minimalisir Hama Lewat Sistem Tumpangsari
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Sejumlah petani di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) memilih melakukan penanaman komoditas pertanian dengan pola tumpangsari atau polikultur. Metode tersebut dilakukan untuk menghindari munculnya penyakit ulat grayak.
Nyoman Raka, salah seorang petani menyebutkan, sistem tumpangsari diaplikasikan untuk menanam berbagai jenis sayuran. Meliputi jagung, cabai, bayam, kunyit, terong dan jenis lain.
Jenis sayuran bayam, terong paling banyak terimbas hama ulat sehingga kondisi daun berlubang. Meski demikian serangan hama pada tanaman sayuran justru meminimalisir hama pada tanaman jagung.
“Tanaman yan disukai untuk memancing berkumpulnya ulat sehingga bisa mudah untuk proses pemusnahan secara rutin,” terang Nyoman Raka saat ditemui Cendana News, Jumat (7/2/2020).
Nyoman Raka juga menyebut sejumlah tanaman bunga yang ditanam pada lahan pertanian bisa mengurangi hama. Berbagai jenis serangga yang menguntungkan sebagai predator alami bisa berfungsi untuk meminimalisir hama.
Ia memastikan penggunaan insektisida dan pestisida dikurangi karena akan membunuh predator yang hidup alami. Selain itu penggunaan pestisida menimbulkan kerusakan lingkungan.
Petani lain, I Gde Makayasa menyebut menanam cabai keriting dengan sistem tumpangsari. Menanam sekitar 5000 batang tanaman cabai keriting berusia sekitar tiga bulan. Penanaman cabai keriting dengan sistem mulsa dilakukan dengan sistem tumpangsari dengan tanaman kunyit, kencur, ubi jalar, ubi kayu.
“Tumpangsari akan meminimalisir kerugian akibat hama sekaligus bisa mendapatkan hasil yang beragam,” terang I Gde Makayasa.
Penanaman cabai rawit pada kondisi normal menurutnya menghasilkan sekitar 4 ton. Pada masa tanam musim penghujan kendala yang dihadapi petani adalah hama jamur dan kerontokan.
Ia memprediksi akibat hujan produksi cabai keriting miliknya hanya menghasilkan sekitar 3,5 ton. Meski demikian dengan harga Rp15ribu perkilo ia bisa mendapat hasil Rp45juta sekali panen.
Pemilik lahan yang memanfaatkan kebun untuk menanam jagung dan pisang itu juga mendapat hasil mingguan. Tanaman pisang yang dimanfaatkan bagian daun bisa digunakan untuk kemasan makanan.