Para Mantan Napi Teroris Masih Hadapi Banyak Persoalan
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Solo Raya menjadi wilayah di Jawa Tengah yang memiliki jumlah eks-napi teroris (napiter) terbanyak. Berdasarkan catatan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jateng, 39 orang napiter ditampung di Yayasan Gema Salam, Solo.
“Mereka ini kita rangkul, komunikasi kita juga berjalan dengan bagus. Bahkan ada satu eks-napiter, yang ikut membantu kita melakukan proses deradikaliasi,” papar Kepala Badan Kesbangpol Jateng, Haerudin, di Kantor Gubernur Jateng, jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (19/2/2020).
Dipaparkan, masih ada sejumlah persoalan yang dihadapi eks-napiter saat ini, salah satunya terkait pemasalahan sosial dan ekonomi. “Ini yang perlu kita pikirkan dan lakukan bersama, bagaimana agar para eks-napiter ini bisa hidup wajar di tengah masyarakat. Tidak ada penolakan dari warga, mereka juga memiliki pekerjaan atau usaha,” tambahnya.
Dikatakan Haerudin, strategi cegah tangkal radikalisme tidak mungkin hanya mengandalkan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris), semata. Perlu upaya strategis dan sinergis, untuk menanggulanginya.
“Di Jateng, ada 127 eks-napi teroris. Agar mereka tak kembali ke jaringan teror kita rangkul kembali mereka. Melalui penguatan wawasan kebangsaan dan nasionalisme, reintegrasi serta pemberdayaan, bagi eks-napiter,” ujarnya.
Menurutnya, program itu dilakukan dengan menggandeng instansi lain, seperti Kemenag, Kemenkumham, MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Yayasan Prasasti Perdamaian serta Yayasan Gema Salam.
Di sisi yang lain, Haerudin juga mengajak masyarakat di Jateng untuk mewaspadai gerakan radikalisme melalui ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal. Karena, paham radikal menjadi embrio terorisme.
“Salah satunya sering kali mereka ini bersikap intoleran atau tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain. Kemudian, fanatik atau selalu merasa benar sendiri, dan menganggap orang lain salah. Selain itu, mereka ini cenderung eksklusif atau membedakan diri dengan yang lain,” lanjutnya.
Tetapi, menurutnya, memiliki sikap dan pemahaman radikal saja tidak mesti terjerumus dalam paham dan aksi terorisme. Ada faktor lain yang memotivasi seseorang bergabung dengan jaringan terorisme.
“Ada banyak faktor, mulai kekecewaan terhadap pemerintah, kemiskinan, pemahaman yang tidak benar tentang sesuatu hal, dan lainnya,” paparnya lebih jauh.
Berdasarkan catatan lembaga yang dipimpinnya, eks-narapidana teroris di Jateng pada 2019 tercatat ada 127 orang. Sedangkan narapidana teroris pada 2019, tercatat ada 223 orang yang terbagi di 45 lembaga pemasyarakatan di Jateng. Jumlah napi teroris terbanyak berada di Lapas Kelas IIA Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap.