Mbak Tutut Soeharto Jualan Dawet Usai Prosesi Siraman
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – “Dawet, dawet, ayo dawetnya bapak-ibu,” ujar Putri Sulung Presiden RI ke -2 H.M. Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut Soeharto, layaknya penjual es dawet atau cendol yang sedang menjajakan barang dagangan di kediamannya, di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (14/2/2020).
Mbak Tutut Soeharto melakukan hal tersebut di penghujung prosesi adat menjelang akad nikah putra ketiganya Bimo Hendro Utomo (Danny Rukmana) dengan Raiyah Chitra Caesaria, gadis asal Makassar, Sulawesi Selatan, besok Sabtu (15/2/2020).
Ayah dan bunda Raiyah Chitra Caesaria yang menghadiri prosesi siraman dari awal sampai akhir didaulat untuk pertama kali meminum dawet. Besan Mbak Tutut Soeharto, H. Andi Abdussalam Tabusalla dan ibu Hj. Andi Dalaisya Rifai hadir mengenakan pakaian khas Bugis berwarna merah.
Acara adat itu sebagai puncak dari tugas tanggungjawab orang tua kepada anaknya yang akan melangkah dalam hidup baru dengan gadis pilihannya.

Prosesi yang dilaksanakan dalam adat Jawa tersebut adalah sebuah harapan atau doa dalam bentuk simbol-simbol, satu diantaranya rangkaian acara ‘dodol dawet’ sebelum hari pernikahan.
Tak henti-hentinya, dari kuali berukuran sedang, Mbak Tutut Soeharto dan Indra Rukmana melayani antrean tamu.
Satu per satu para tamu diberi dawet atau cendol.
Kesegaran manisnya cendol dan dinginnya es batu mengiringi kehangatan prosesi pernikahan. Acara menikmati dodol dawet dilaksanakan di halaman rumah, mengundang keluarga dan tetangga sekitar, dengan pembayaran berupa pecahan bahan genting berbentuk bulat, yaitu berupa kereweng.
Prosesi dodol dawet, secara khusus ditujukan atau dipahami sebagai simbolisasi sebuah harapan atau doa agar pernikahan yang akan digelar keesokan hari, dikunjungi banyak tamu, seperti juga laris-manisnya dawet yang terjual.
“Alhamdulillah di tengah segarnya dodol dawet, hujan turun, Insyaallah membawa keberkahan,” kata pembawa acara, Liz Darmono.
Setelah acara dodol dawet, para tamu dipersilakan menikmati hidangan yang disediakan. Di antaranya, ada soto mie, kebab, dan aneka jajanan tradisional.
Acara selanjutnya adalah midodareni. Menurut pernikahan adat Jawa, midodareni adalah sebuah prosesi menjelang acara panggih dan akad nikah.
Midodareni sendiri berasal dari kata widodari yang dalam bahasa Jawa bermakna bidadari. Mitos yang berkembang di kalangan masyarakat Jawa kenapa diadakan acara prosesi Midodareni karena konon pada malam itu para bidadari dari khayangan turun ke bumi.
Bertandang ke rumah calon mempelai wanita, guna ikut mempercantik dan menyempurnakan calon pengantin wanita.