Kompetensi dalam Menolong Korban Trauma Akut, Penting
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan maupun kejadian lainnya yang menyebabkan trauma akut, hanya bisa dilakukan orang yang memang memiliki pemahaman akan BLS (Basic Life Support). Bagi yang tidak memiliki, pilihan terbaik adalah menunggu pihak medis atau yang berkompeten.
Kepala Instalasi IGD RS Yarsi dr. Febriyanti Umar menyebutkan bahwa melakukan tindakan yang cepat dan tepat pada korban trauma akut mampu meningkatkan peluang hidup dari korban.
“Ini pentingnya mengetahui apa yang harus dilakukan dengan cepat. Bukan hanya cepat saja. Memang, niat masyarakat atau orang di sekitarnya untuk menolong itu baik, tapi kalau hasilnya malah tidak baik karena salah cara nolongnya, akhirnya malah menambah masalah,” kata dr. Febri saat ditemui di RS Yarsi Jakarta, Rabu (12/2/2020).
Ia menjelaskan bahwa dalam kasus pertolongan pada kasus trauma akut, 80 persen diantara menyebabkan kematian.
“Jika dilakukan penanganan tepat, maka 50 persen akan hidup, jika dalam hitungan jam persentasenya akan menurun menjadi 30 persen dan jika dalam hitungan minggu, maka akan menurun lagi menjadi 20 persen,” ujarnya lebih lanjut.
Jika ingin memberi pertolongan pada korban trauma akut, dr. Febri menekankan pentingnya untuk mengetahui kapasitas diri.
“Maksudnya, kita melihat korban, tanya dulu, kita mampu atau tidak untuk menolong dengan benar? Apakah kita mempunyai pengetahuan tentang BLS? Kalau tidak, sebaiknya menunggu pihak medis atau pihak yang lebih berkompeten,” ucapnya.
Pertolongan yang bisa dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi bisa dengan menunggui korban atau melakukan penjagaan sederhana.
“Lihat lingkungannya, apakah aman atau tidak. Kalau banyak orang yang melihat, pastikan tidak mengganggu kondisi korban. Kalau korban terlihat kedinginan, bisa ditutupi dengan kain,” urainya.
Langkah lain yang bisa dilakukan, jika kondisi korban tidak sadar, bisa dilakukan pengecekan nadi. “Untuk yang memiliki pengetahuan BLS, tentunya tahap pertama memastikan airway atau akses pernapasan dari korban. Usahakan leher tidak tertekuk, sehingga memastikan asupan udara tidak terhalangi,” paparnya.
Febri menekankan pentingnya pengetahuan BLS ini bagi masyarakat umum, sehingga korban trauma akut bisa mendapatkan bantuan yang tepat dalam waktu singkat.
“Memang saat ini banyak sekali layanan cepat untuk bantuan. Tapi sebaiknya masyarakat juga memahami apa itu BLS. Selain bisa membantu lebih cepat, akan mengurangi potensi terjadinya cedera tambahan,” pungkasnya.