Kemeriahan Perayaan Cap Go Meh dan Sajian Kue Keranjang

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Perayaan Cap Go Meh terlihat meriah di sejumlah vihara yang ada di Teluk Betung, kota Bandar Lampung. Sui Ni Liu, salah satu warga Jalan Yos Sudarso menyebut perayaan Cap Go Meh dirayakan dalam rangkaian tahun baru Imlek bagi etnis Tionghoa.

Ciri khas perayaan itu menurutnya hampir sama dengan Imlek. Sajian buah jeruk, kue keranjang dominan ada di setiap keluarga etnis Tionghoa.

Sui Ni Liu, salah satu warga di Kecamatan Panjang berdoa dan membawa persembahan di kelenteng Senopati atau Vihara Chiang Cin Miao,Jalan Yos Sudarso Panjang, Bandar Lampung pada perayaan Cap Go Meh, Sabtu (8/2/2020). -Foto: Henk Widi

Sebagai bagian dari perayaan Cap Go Meh, ungkapan rasa syukur dilakukan dengan berdoa di vihara atau kelenteng. Salah satu vihara yang digunakan untuk bersembahyang diantaranya Vihara Thay Hin Bio di Jalan Ikan Kakap No. 35 dan Vihara Senopati atau Chiang Cin Miao di Jalan Yos Sudarso, kota Panjang. Pada rangkaian doa di vihara sebagian warga membawa persembahan buah jeruk, kue keranjang.

Rasa syukur dengan membawa persembahan kue keranjang menurutnya akan berlanjut hingga ke rumah. Seperti pada perayaan Imlek, saat Cap Go Meh warga akan menerima tamu di rumah. Simbol kebahagiaan dalam perayaan itu diantaranya dengan menyajikan kue keranjang yang bisa dimakan langsung atau digoreng. Bagi tetangga yang tidak sempat berkunjung kue keranjang kerap dibagikan.

“Perayaan Cap Go Meh yang menjadi harapan akan umur panjang dalam menghadapi tahun baru bershio tikus logam ini hidangan mi locupan simbol panjang umur juga dihidangkan,” ungkap Sui Ni Lui saat ditemui Cendana News usai berdoa di Vihara Chiang Cin Miao, Sabtu (8/2/2020).

Sui Ni Liu mengaku mengunjungi dua vihara di Teluk Betung untuk membawa persembahan. Permohonan keselamatan dam rasa syukur saat Cap Go Meh sekaligus menjadi waktu berdoa bagi leluhur. Ia juga menjadikan perayaan itu sebagai waktu berbagi kepada sesama. Tradisi memberi angpao bagi pengurus vihara dan anak anak kecil masih tetap dilakukan saat perayaan Cap Go Meh.

Ali Sutomo, juru pelihara Vihara Senopati atau Ciang Cin Miao di Jalan Yos Sudarso,Panjang, Bandar Lampung, Sabtu (8/2/2020). -Foto: Henk Widi

Terkait perayaan Cap  Go Meh, Ali Sutomo selaku juru pelihara Vihara Chiang Cin Miao mengaku warga banyak yang datang untuk berdoa. Pengertian Cap Go Meh dari bahasa Tionghoa berasal dari kata Cap bermakna sepuluh, Go bermakna lima dan Meh bermakna malam. Secara harfiah Cap Go Meh merupakan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek. Dirayakan pada hari ke-15 menjadi rangkaian perayaan Imlek.

“Hari ini setiap keluarga menyempatkan untuk bersembahyang di vihara memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan, lalu makan bersama,” cetus Ali Sutomo.

Ali Sutomo menyebut umat yang berdoa sekaligus menengok sepasang lilin yang dinyalakan saat Imlek. Lilin tanda terang selama tahun baru shio tikus logam diharapkan akan menjadi penerang dalam menjalani kehidupan. Usai berdoa kepada para dewa,leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa, umat akan berkunjung ke sejumlah keluarga yang lebih tua.

Penghargaan kepada leluhur, orangtua menjadi hal yang wajib bagi etnis Tionghoa yang memeluk agama Budha. Kemeriahan Cap Go Meh juga terlihat dengan adanya penyalaan lampion yang menghiasi dalam dan luar vihara. Pada sejumlah tempat pertunjukan tarian naga dan singa atau barongsai jadi sajian istimewa. Lokasi pertunjukan barongsai menurutnya dipusatkan di perumahan Citra Land.

Kue keranjang atau kue tutun yang digoreng dengan tepung disajikan saat perayaan Cap Go Meh, Sabtu (8/2/2020). -Foto: Henk Widi

Sajian kue keranjang yang digoreng saat Cap Go Meh disukai Cristina, warga Jalan Yos Sudarso, Bandar Lampung. Kue keranjang atau kue tutun merupakan sejenis kue menyerupai dodol. Memiliki rasa manis kue yang muncul saat Imlek hingga Cap Go Meh disajikan dalam kondisi sudah digoreng atau bisa dimakan langsung. Sajian kue keranjang dengan cara digoreng memakai tepung diakui Cristina semakin menambah kelezatan kue tersebut.

“Kalau digoreng rasanya akan bertambah renyah dari tepung dan bagian dalam lembut seperti coklat,” beber Cristina.

Sajian kue keranjang atau kue tutun menurut Cristina semakin lengkap dengan teh hangat. Selain kue keranjang yang digoreng hidangan saat Cap Go Meh ia bisa menikmati jeruk. Jeruk khusus yang memiliki makna keberuntungan kerap disajikan pada sejumlah keluarga dengan harapan mendapat keberuntungan sepanjang tahun.

Lihat juga...